Menatap Masa Depan Ekonomi Syariah Kepulauan Riau: Dari Visi Menjadi Aksi Nyata

 

Menatap Masa Depan Ekonomi Syariah Kepulauan Riau: Dari Visi Menjadi Aksi Nyata


Menatap Masa Depan Ekonomi Syariah Kepulauan Riau: Dari Visi Menjadi Aksi Nyata
Disiarkan Langsung dari Dialog Tanjungpinang Pagi RRI Pro 1

Tanjungpinang, 5 Agustus 2025 – Perkembangan ekonomi syariah di Indonesia terus menunjukkan tren positif, termasuk di wilayah Kepulauan Riau (Kepri). Dalam rangka memperkuat peran dan implementasi ekonomi syariah di daerah ini, RRI Pro 1 Tanjungpinang menghadirkan program Dialog Tanjungpinang Pagi bertema "Masa Depan Ekonomi Syariah Kepulauan Riau: Dari Visi ke Aksi" yang disiarkan langsung pada Selasa, 5 Agustus 2025, pukul 08.00–09.00 WIB.

Dialog ini menghadirkan dua narasumber utama yang memiliki peran penting dalam pengembangan ekonomi syariah di Kepri, yaitu:

  • Dwi Vita Lestari, S.Pd, M.Pd, Sekretaris Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kepulauan Riau.
  • Dr. Satriadi, S.AP., M.Sc, Direktur P4S dan Bidang Kerjasama STIE Pembangunan Tanjungpinang.

Acara dipandu oleh Febriansyah, host yang dikenal dengan pembawaannya yang lugas dan informatif.


Mengapa Ekonomi Syariah Menjadi Relevan di Kepri?

Kepulauan Riau memiliki posisi geografis yang strategis, berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. Sebagai wilayah dengan mayoritas penduduk muslim dan potensi perdagangan internasional yang tinggi, Kepri memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekonomi syariah secara inklusif dan kompetitif.

Dalam pembukaan dialog, Febriansyah menekankan pentingnya memahami ekonomi syariah tidak sekadar sebagai sistem keuangan, tetapi sebagai bentuk kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat yang adil, transparan, dan berbasis nilai-nilai Islam.

“Ekonomi syariah bukan hanya soal perbankan syariah, tapi juga mencakup sektor riil, zakat, wakaf produktif, industri halal, dan pengembangan UMKM,” ujar Febriansyah.


Visi Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kepri

Dwi Vita Lestari, sebagai Sekretaris Umum MES Kepri, menjelaskan bahwa MES hadir sebagai organisasi independen yang menjembatani pemangku kepentingan dalam mengembangkan ekosistem ekonomi syariah secara kolaboratif.

“Visi kami adalah menjadikan ekonomi syariah sebagai arus utama dalam pembangunan ekonomi daerah. Kami ingin masyarakat Kepri, khususnya pelaku UMKM, bisa naik kelas melalui pembinaan berbasis prinsip syariah,” jelas Dwi Vita.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa MES Kepri telah melakukan berbagai inisiatif seperti pelatihan kewirausahaan syariah, pendampingan koperasi syariah, sosialisasi literasi keuangan syariah, hingga sinergi dengan lembaga pendidikan dan pesantren.


Peran Pendidikan Tinggi: STIE Pembangunan Tanjungpinang

Dr. Satriadi, sebagai akademisi dan Direktur P4S STIE Pembangunan Tanjungpinang, menyoroti pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan sektor ekonomi syariah. Menurutnya, pengembangan ekonomi berbasis syariah harus ditopang oleh riset, kurikulum, dan sumber daya manusia yang memahami prinsip-prinsip maqashid syariah.

“STIE Pembangunan sudah mulai menyisipkan mata kuliah ekonomi Islam dalam kurikulum. Kami juga aktif menjalin kerja sama dengan MES, Baznas, dan bank syariah dalam kegiatan pengabdian masyarakat,” ungkap Dr. Satriadi.

Ia juga menambahkan bahwa mahasiswa saat ini perlu diarahkan untuk tidak hanya berpikir mencari kerja, tapi juga menciptakan lapangan kerja berbasis usaha syariah, seperti bisnis makanan halal, travel haji dan umrah, hingga e-commerce berbasis syariah.


Dari Visi ke Aksi: Tantangan dan Peluang

Dialog berjalan hangat dengan berbagai pertanyaan dari pendengar yang dikirim melalui WhatsApp dan media sosial RRI Tanjungpinang. Salah satu pertanyaan yang mencuat adalah bagaimana cara mendorong UMKM lokal agar bisa bertransformasi ke ekonomi syariah.

Dwi Vita menjawab bahwa langkah pertama adalah edukasi dan pendampingan. “Kami tidak mengubah bisnis mereka secara langsung, tetapi memberi pemahaman bagaimana cara menghindari riba, membuat akad yang sesuai syariah, serta mengakses pembiayaan syariah yang tidak membebani.”

Sementara Dr. Satriadi menekankan perlunya insentif dari pemerintah daerah. “Kalau perlu ada Perda Ekonomi Syariah di Kepri. Ini bisa jadi payung hukum untuk mendorong program-program seperti sertifikasi halal gratis, pelatihan manajemen syariah, dan pembentukan inkubator usaha syariah.”


Sinergi Stakeholder Menjadi Kunci

Keduanya sepakat bahwa masa depan ekonomi syariah di Kepri tidak bisa dijalankan oleh satu lembaga saja. Dibutuhkan kolaborasi antara:

  • Pemerintah daerah untuk regulasi dan fasilitasi.
  • Lembaga keuangan syariah untuk pembiayaan.
  • Akademisi untuk riset dan SDM.
  • Masyarakat untuk literasi dan partisipasi.
  • Media untuk edukasi publik.

RRI Tanjungpinang sebagai media penyiaran publik pun menyatakan komitmennya untuk terus mengangkat tema-tema edukatif yang mendorong pembangunan daerah, termasuk melalui program dialog interaktif seperti ini.


Digitalisasi dan Ekonomi Syariah: Jalan Baru UMKM

Dalam bagian akhir dialog, pembahasan beralih pada tantangan digitalisasi. Dwi Vita menyampaikan bahwa MES Kepri sedang merancang aplikasi edukasi dan marketplace UMKM syariah berbasis digital. “Kita tidak bisa menghindari era digital. Yang penting adalah bagaimana memastikan bahwa teknologi tetap selaras dengan prinsip syariah,” katanya.

Dr. Satriadi menambahkan bahwa teknologi seperti QRIS Syariah, fintech syariah, dan blockchain halal dapat dimanfaatkan untuk mendorong inklusi keuangan syariah. “Mahasiswa kami bahkan sedang riset tentang token halal berbasis wakaf. Ini bukan hal futuristik lagi, tapi sudah menjadi kenyataan,” tegasnya.


Kesimpulan: Ekonomi Syariah sebagai Pilar Kemandirian Daerah

Dialog yang berlangsung selama satu jam ini memberikan pandangan mendalam bahwa ekonomi syariah bukanlah sistem alternatif, melainkan solusi strategis dalam menghadapi tantangan ekonomi global dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kepri secara berkelanjutan.

Beberapa poin penting yang bisa disimpulkan:

  1. Kepri memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi syariah, baik dari segi demografi, letak geografis, maupun sumber daya.
  2. Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) menjadi motor penggerak literasi, edukasi, dan sinergi antara pelaku usaha dan masyarakat.
  3. Pendidikan tinggi memiliki peran vital dalam membentuk generasi muda yang melek ekonomi syariah dan siap menjadi pelaku usaha.
  4. Perlu sinergi multipihak, termasuk dukungan regulasi, insentif daerah, dan pemanfaatan teknologi digital berbasis syariah.
  5. Media publik seperti RRI memainkan peran strategis dalam menyuarakan pentingnya transisi dari visi ke aksi nyata.

Penutup

RRI Pro 1 Tanjungpinang kembali membuktikan perannya sebagai jembatan informasi dan edukasi yang membumi namun visioner. Dialog pagi ini bukan sekadar diskusi intelektual, melainkan panggilan untuk bertindak — dari visi menjadi aksi.

Semoga dengan dialog seperti ini, semangat kolaborasi terus tumbuh dan ekonomi syariah benar-benar menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi daerah, menuju Kepri yang lebih sejahtera, adil, dan bermartabat.


Narahubung & Informasi:

  • WhatsApp: 0811 7789 830
  • Telepon: 0771 - 27100
  • Media Sosial:

Sumber Gambar: RRI Tanjungpinang
Tanggal Publikasi: 5 Agustus 2025
Durasi Acara: 08:00 – 09:00 WIB




0 Komentar