Surat dari Pulau Penyengat - Arreza

Friday, 14 July 2017

Surat dari Pulau Penyengat

Surat ini datang dari Pulau yang sangat jauh dari kediamanku, surat yang membawa pikiran dan badanku mengikuti arus menuju kembali ke masa lalu itu. Kenangan masa itu,

Kenangan yang berputar kembali mengiang ngiang dikepalaku. Bukan sebagai penyesalan atau menjadikan keinginan untuk dapat kembali ke masa itu, tapi makna yang terkandung dalam surat itu yang menghentakkan jantung, seperti dihantam kilat dan hempasan air hujan deras.

Isi dalam surat itu sederhana sekali, seperti ini :

Mamas, apakah kebahagiaan itu?

Apakah kebahagiaan itu terbalur dengan perasaan yang tersakiti baru kita sebagai insan manusia dapat dikatakan bahagia?

Apakah hati yang sakit dapat dikatakan sebagai proses untuk menuju kebahagiaan?

Apakah kebersamaan dapat menjadikan bahagia bagi adik?

Kenapa kata kata kebersamaan malah menjadi parasit yang mampu menghancurkan harapan?
Teringat adik oleh pertanyaan mamas, "memangnya adik tidak mau bersama mamas?"

Dilanjutkan dengan pernyataan pernyataan mamas yang tidak memungkinkan rasa adik untuk kita bisa bersama

Kenapa mamas memberikan kemungkinan untuk kita bersama dan sekaligus membalutnya dengan ketidakmungkinan itu?

Jujur mamas, adik sangat bingung, dibalik ketidakmungkinan itu, adik merasa mampu untuk menepis semua itu

Walau misal pada akhirnya adik akan menyimpan semua itu dalam kenangan adik, dan adik akan tetap disamping mamas

Meski adik hanya bisa menjadi penonton, seperti menonton Wayang, Adik berusaha mencari takdir adik dengan berselimutkan kata "mungkin"

Adik merasa bisa mengatasi sifat kekanak kanakanmu, amarahmu, sedihmu, sifat menjengkelkanmu, posesif mu, cemburumu, sifat nakalmu, seenaknya mamas

Adik berterima kasih pada mamas yang telah mengisi hati adik untuk sementara waktu
Mamas, jujur adik sangat sayang mamas, bahkan mulai dapat mengisi hati rapuh adik dengan cinta mamas

Mamas, dalam lubuk hati mamas, adik tahu mamas juga masih sayang sama adik

Adik akan selalu menjadi bayangan mamas, dalam setiap dimensi waktu, dan adik berdoa agar kita dapat bersatu dimasa yang akan datang

dari : adik yang selalu mendoakan mamas


Bagikan artikel ini

6 comments