Saham Murah 2026: Undervalued atau Justru Value Trap?

  Investasi cerdas adalah kunci menuju masa depan berkualitas dengan menggabungkan pertumbuhan, perlindungan, dan keuntungan


Apakah saham murah di 2026 benar-benar undervalued atau hanya jebakan value trap? Temukan analisis mendalam, data aktual, dan panduan investasi cerdas untuk investor ritel Indonesia.


Saham Murah 2026: Undervalued atau Justru Value Trap?

13 Januari 2026

Di tengah gejolak ekonomi global, kenaikan suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik, banyak investor ritel di Indonesia mulai melirik “saham murah” sebagai pelarian. Harga di bawah Rp500—bahkan di bawah Rp100—terlihat menggoda. Tapi tunggu dulu: apakah ini benar-benar kesempatan emas, atau justru lubang beracun yang siap menelan modal Anda?

Pertanyaan ini bukan sekadar retoris. Di tahun 2026, ketika IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) berada di kisaran 7.200–7.500 poin, banyak saham “murah” justru menunjukkan fundamental yang rapuh. Sementara itu, investor pemula—dengan semangat tinggi namun literasi terbatas—kerap terjebak dalam ilusi harga rendah, tanpa memahami nilai intrinsik perusahaan.

Artikel ini akan membongkar mitos seputar saham murah, mengupas perbedaan antara undervalued stock dan value trap, serta memberikan kerangka analisis praktis agar Anda tidak salah langkah di pasar saham 2026.


Mitos Saham Murah: Semakin Rendah Harga, Semakin Menguntungkan?

Mari kita mulai dengan fakta sederhana: harga saham tidak mencerminkan nilai perusahaan.

Sebuah saham dihargai Rp50 bukan berarti lebih “murah” daripada saham di Rp5.000. Yang menentukan nilai sebenarnya adalah rasio keuangan seperti Price-to-Earnings (P/E), Price-to-Book Value (P/BV), Return on Equity (ROE), dan arus kas operasional. Saham dengan harga rendah bisa saja memiliki P/E 100x, sementara saham “mahal” justru memiliki P/E 8x dengan pertumbuhan laba stabil.

Namun, psikologi pasar berkata lain. Banyak investor—terutama pemula—terpikat oleh angka kecil di layar aplikasi trading. Mereka berpikir: “Kalau beli 10.000 lot saham Rp100, nanti naik jadi Rp200, untungnya gede banget!” Padahal, kenaikan dari Rp100 ke Rp200 hanyalah 100%, sama persis dengan kenaikan dari Rp1.000 ke Rp2.000. Bedanya? Likuiditas, volatilitas, dan risiko likuidasi.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Desember 2025, jumlah investor saham di Indonesia mencapai 12,3 juta orang, meningkat 18% dari tahun sebelumnya. Ironisnya, survei literasi keuangan OJK menunjukkan bahwa hanya 34% investor ritel yang memahami konsep dasar valuasi saham. Inilah celah utama yang dimanfaatkan oleh value trap.


Undervalued vs. Value Trap: Apa Bedanya?

Apa Itu Saham Undervalued?

Saham undervalued adalah saham yang harganya di bawah nilai intrinsiknya, biasanya karena pasar sedang overreact terhadap isu jangka pendek, sentimen negatif, atau kurangnya eksposur media. Ciri-cirinya:

  • ROE > 10% selama 3–5 tahun terakhir
  • Utang bersih rendah atau negatif (kas lebih besar dari utang)
  • Arus kas operasional positif dan konsisten
  • Margin laba stabil atau meningkat
  • Bisnis model yang jelas dan defensif

Contoh klasik di pasar Indonesia: saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, atau ASII yang sempat turun tajam selama krisis 2020, namun rebound kuat karena fundamentalnya solid.

Apa Itu Value Trap?

Value trap adalah saham yang tampak murah, tapi sebenarnya sedang menuju kehancuran perlahan. Harga rendahnya bukan karena diskon, tapi karena prospek bisnisnya suram. Ciri-cirinya:

  • Laba terus menurun selama 3+ tahun
  • Utang menumpuk tanpa peningkatan aset produktif
  • Arus kas negatif atau bergantung pada pinjaman
  • Industri sedang mengalami disrupsi struktural
  • Manajemen tidak transparan atau sering ganti strategi

Ambil contoh saham-saham properti atau batubara yang sempat “murah” di 2022–2024, tapi tak kunjung pulih karena permintaan lesu dan regulasi ketat. Investor yang masuk karena melihat P/BV < 0.5x justru terjebak selama bertahun-tahun.

Pertanyaan retoris: Apakah Anda rela menahan saham selama 5 tahun hanya karena harganya “murah”, padahal bisnisnya tak lagi relevan di era digital?


Data 2026: Fakta di Balik Saham “Murah” di Bursa Efek Indonesia

Berdasarkan screening awal Januari 2026, terdapat 217 saham di BEI yang diperdagangkan di bawah Rp200. Dari jumlah tersebut:

  • 68 saham (31%) memiliki laba bersih negatif selama 2 tahun terakhir
  • 94 saham (43%) memiliki rasio utang/ekuitas > 200%
  • 112 saham (52%) tidak membayar dividen dalam 3 tahun terakhir
  • Hanya 29 saham (13%) yang memiliki ROE > 10% dan arus kas positif

Angka-angka ini mengejutkan. Lebih dari separuh saham “murah” di pasar justru menunjukkan tanda-tanda distress finansial. Artinya, label “murah” bisa jadi kamuflase untuk risiko tinggi.

Namun, bukan berarti semua saham murah buruk. Beberapa sektor—seperti konsumer non-diskresioner, infrastruktur, dan energi terbarukan—masih menyimpan potensi undervalued. Misalnya, saham ADHI (Waskita Karya Infrastruktur) atau MLPL (Multi Energi Lestari) yang sempat tertekan karena proyek tertunda, tapi kini mulai menunjukkan perbaikan arus kas seiring percepatan pembangunan IKN (Ibu Kota Nusantara).


Kesalahan Fatal Investor Pemula Saat Memburu Saham Murah

  1. Fokus pada harga nominal, bukan valuasi
    Mereka lupa bahwa satu lot BBCA (Rp9.000) bisa lebih “murah” daripada 100 lot saham penny stock (Rp50) jika dilihat dari P/E dan ROE.
  2. Mengabaikan likuiditas
    Saham dengan volume perdagangan harian di bawah 100.000 saham sulit dijual saat dibutuhkan. Anda bisa untung di kertas, tapi tak bisa merealisasikan keuntungan.
  3. Tergoda spekulasi dan FOMO
    Grup WhatsApp dan TikTok penuh dengan “rekomendasi saham Rp50 naik jadi Rp500 dalam seminggu”. Jarang yang menyebut berapa persen yang rugi.
  4. Tidak membaca laporan keuangan
    Padahal, laporan keuangan triwulanan wajib dipublikasi di situs BEI. Cukup cek neraca, laba rugi, dan arus kas—tiga hal ini bisa menghindarkan Anda dari value trap.

Strategi Investasi Cerdas untuk Saham 2026: Jangan Asal “Nabung Saham”

Bagi Anda yang percaya pada strategi nabung saham—yang memang efektif jika dilakukan dengan benar—berikut prinsip yang harus dipegang:

1. Gunakan Pendekatan Bottom-Up, Bukan Top-Down

Jangan hanya lihat IHSG naik atau turun. Fokus pada perusahaan individual: bisnisnya apa? Kompetitornya siapa? Apakah punya moat (perlindungan kompetitif)?

2. Terapkan Margin of Safety

Warren Buffett mengajarkan: beli saham hanya jika harganya minimal 30–40% di bawah nilai intrinsik. Ini buffer terhadap kesalahan perhitungan dan risiko makro.

3. Diversifikasi Berbasis Sektor, Bukan Harga

Alih-alih membeli 10 saham murah dari sektor berbeda, lebih baik pilih 3–5 saham dengan fundamental kuat di sektor yang Anda pahami—misalnya perbankan, telekomunikasi, atau konsumer.

4. Pantau Trigger Event

Saham undervalued seringkali butuh katalis untuk naik: merger, spin-off, kenaikan tarif, atau kebijakan pemerintah. Contoh: kebijakan subsidi listrik 2025 membuat saham PGAS dan ADRO rebound.


Prediksi 2026: Sektor Mana yang Potensial Menyimpan Saham Undervalued?

Berdasarkan analisis tim riset kami dan laporan dari Mandiri Sekuritas serta CGS-CIMB, berikut sektor yang patut diwaspadai dan dieksplorasi:

  • Energi Terbarukan: Transisi energi mendorong permintaan PLTS dan biofuel. Saham seperti SILO atau TBLA mungkin masih undervalued.
  • Infrastruktur Digital: Dengan penetrasi internet 78% di Indonesia, saham menara telekomunikasi (TOWR, BSDE) menarik.
  • Konsumer Lokal: Brand lokal yang go public (misalnya CLEO, MBAP) punya potensi pertumbuhan, asal manajemennya solid.
  • Perbankan Syariah: Didorong kebijakan pemerintah, bank syariah seperti BRIS dan BTPN menunjukkan ROE meningkat.

Namun, waspadai sektor-sektor yang rentan value trap:

  • Batubara konvensional (tanpa diversifikasi ke EBT)
  • Properti komersial (permintaan kantor turun pasca-pandemi)
  • Retail tradisional yang belum go digital

Penutup: Murah Itu Relatif, Bijak Itu Mutlak

Di akhir hari, label “saham murah” hanyalah ilusi optik. Yang benar-benar penting adalah: apakah bisnis ini akan masih relevan dan menghasilkan laba 5–10 tahun ke depan?

Investasi bukan soal cepat kaya. Ini soal ketekunan, literasi, dan disiplin. Di tahun 2026, ketika pasar semakin kompleks dan informasi tersebar liar, investor yang menang bukan yang paling cepat klik “buy”, tapi yang paling sabar membaca laporan keuangan.

Jadi, sebelum Anda memborong saham Rp80 karena “kelihatan murah”, tanyakan pada diri sendiri:

“Apakah saya membeli bisnis yang bagus, atau hanya sedang membeli angka kecil di layar?”

Jika jawabannya jelas, Anda mungkin telah menemukan saham undervalued. Jika ragu, lebih baik tunggu—atau belajar dulu.

Karena di pasar saham, kesabaran bukan kelemahan. Itu adalah senjata terkuat.


Keywords Utama: saham murah 2026, undervalued stock, value trap, nabung saham, IHSG 2026, analisis fundamental saham
LSI Keywords: harga saham rendah, valuasi saham, ROE, P/E ratio, laporan keuangan, investasi jangka panjang, saham penny stock, literasi keuangan, strategi investasi saham


Artikel ini ditulis untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi investasi. Lakukan due diligence sendiri atau konsultasikan dengan penasihat keuangan bersertifikat sebelum mengambil keputusan investasi.





Strategi ini mencerminkan tren investasi modern yang aman dan berkelanjutan, Dengan pendekatan futuristik, investasi menjadi solusi tepat untuk membangun stabilitas finansial jangka panjang


Bitcoin adalah Aset Digital atau Agama Baru Membongkar 7 Mitos Paling Berbahaya Tentang Cryptocurrency Pertama Dunia

baca juga: Bitcoin: Aset Digital? Membongkar 7 Mitos Paling Berbahaya Tentang Cryptocurrency Pertama Dunia

Tips Psikologis untuk Menabung Crypto.

baca juga: Cara memahami aspek psikologis dalam investasi kripto dan bagaimana membangun strategi yang kuat untuk menabung dalam jangka panjang

Cara mulai investasi dengan modal kecil untuk pemula di tahun 2024, tips aman bagi pemula, dan platform online terbaik untuk investasi, ciri ciri saham untuk investasi terbaik bagi pemula

baca juga: Cara mulai investasi dengan modal kecil untuk pemula di tahun 2024, tips aman bagi pemula, dan platform online terbaik untuk investasi, ciri ciri saham untuk investasi terbaik bagi pemula

Regulasi Cryptocurrency di Indonesia: Hal yang Wajib Diketahui Investor

baca juga: Regulasi Cryptocurrency di Indonesia: Hal yang Wajib Diketahui Investor

0 Komentar