Pembayaran Digital Indonesia Tetap Tumbuh Tinggi: QRIS Memasuki Fase Adopsi yang Semakin Luas
Indonesia Digital Economy & Business Monitor — Research Update #001
Research Program: Indonesia Digital Economy & Business Monitor
Level: LEVEL 2 — Research Update
Update: #001
Observation Period: Januari–Juli 2026
Status: Published Research Update
ArrezaMP Research — Research & Evidence Intelligence
← Back to ArrezaMP Research Hub
Research Update Overview
Aktivitas pembayaran digital Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan kuat sepanjang 2026.
Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan tersebut tidak hanya terlihat pada volume pembayaran digital secara keseluruhan, tetapi juga pada penggunaan QRIS dan infrastruktur pembayaran ritel seperti BI-FAST.
Pada triwulan II 2026, volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi, tumbuh 36,88% secara year-on-year (yoy).
Primary Evidence:
Bank Indonesia — Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2026
QRIS menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih cepat.
Volume transaksi QRIS pada triwulan II 2026 tumbuh 100,12% yoy.
Hingga Juni 2026, QRIS telah mencapai:
65,77 juta pengguna
44,86 juta merchant
dan 96,68% merchant QRIS merupakan UMKM.
Sepanjang semester I 2026, QRIS mencatat:
12,55 miliar transaksi
dengan nilai:
Rp1,12 kuadriliun
atau tumbuh 93,92% yoy secara nominal.
Primary Evidence:
Bank Indonesia — Kartu Kredit Indonesia dan Kebijakan MDR 0%: Sinergi dan Inovasi Perkuat Ekonomi Keuangan Digital Indonesia
Data Juli 2026 menunjukkan bahwa ekspansi tersebut masih berlanjut.
Volume pembayaran digital mencapai 5,50 miliar transaksi, tumbuh 28,69% yoy, sementara transaksi QRIS tumbuh 82,42% yoy.
Primary Evidence:
Bank Indonesia — BI-Rate Tetap 5,75%: Memperkuat Stabilitas, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi
Angka-angka ini menghasilkan satu research signal penting:
Pembayaran digital Indonesia tampaknya semakin bergerak dari fase adopsi menuju penggunaan yang semakin luas dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
Namun, pertumbuhan yang sangat tinggi juga perlu dibaca dengan hati-hati.
Growth rate QRIS mulai lebih rendah dibandingkan awal 2026.
Hal ini bukan berarti transaksi QRIS menurun, tetapi dapat menjadi signal bahwa laju pertumbuhan mulai berubah ketika basis pengguna dan merchant semakin besar.
1. What Changed?
Indonesia memasuki 2026 dengan pertumbuhan transaksi digital yang tinggi.
Pada triwulan I 2026, Bank Indonesia mencatat volume pembayaran digital sebesar:
14,82 miliar transaksi
atau tumbuh:
37,69% yoy
Pada periode yang sama, transaksi QRIS tumbuh:
116,43% yoy
Primary Evidence:
Bank Indonesia — Laporan Kebijakan Moneter Triwulan I 2026
Pada triwulan II 2026, volume pembayaran digital meningkat menjadi:
16,07 miliar transaksi
dengan pertumbuhan:
36,88% yoy
QRIS tetap tumbuh sangat tinggi:
100,12% yoy
Primary Evidence:
Bank Indonesia — Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2026
Pada Juli 2026, volume pembayaran digital dalam satu bulan mencapai:
5,50 miliar transaksi
dengan pertumbuhan:
28,69% yoy
QRIS pada Juli masih tumbuh:
82,42% yoy
Primary Evidence:
Bank Indonesia — RDG Agustus 2026 / Data Juli 2026
Secara sederhana, perkembangan growth rate QRIS dapat dilihat sebagai:
Q1 2026 → +116,43% yoy
↓
Q2 2026 → +100,12% yoy
↓
Juli 2026 → +82,42% yoy
Perubahan tersebut merupakan research signal, bukan kesimpulan akhir.
2. Key Evidence
Digital Payment Transactions
Pada triwulan II 2026:
16,07 miliar transaksi
Pertumbuhan:
+36,88% yoy
Bank Indonesia menyebut pertumbuhan tersebut didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital.
Source:
Bank Indonesia — Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2026
QRIS Transactions
Pada triwulan II 2026:
+100,12% yoy
Pertumbuhan transaksi QRIS tetap jauh berada di atas pertumbuhan transaksi pembayaran digital secara keseluruhan.
Source:
Bank Indonesia — Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2026
QRIS Users
Hingga Juni 2026:
65,77 juta pengguna
Sebanyak:
6,23 juta
merupakan pengguna baru selama Januari–Juni 2026.
Source:
Bank Indonesia — Data QRIS Semester I 2026
QRIS Merchants
Hingga Juni 2026:
44,86 juta merchant
Dari jumlah tersebut:
96,68% merupakan UMKM
Komposisi ini menunjukkan bahwa digitalisasi pembayaran telah menjangkau pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dalam skala luas.
Source:
Bank Indonesia — Data QRIS Semester I 2026
QRIS Transaction Activity
Sepanjang semester I 2026:
12,55 miliar transaksi
Nilai transaksi:
Rp1,12 kuadriliun
Pertumbuhan nominal:
+93,92% yoy
Source:
Bank Indonesia — Data QRIS Semester I 2026
3. BI-FAST Juga Terus Berkembang
Perkembangan ekonomi digital tidak hanya dapat diamati melalui QRIS.
Infrastruktur transfer pembayaran ritel juga menunjukkan pertumbuhan.
Pada triwulan II 2026, volume transaksi yang diproses melalui BI-FAST mencapai:
1,529 miliar transaksi
Pertumbuhan:
+38,09% yoy
Nilai transaksi:
Rp3.777 triliun
Source:
Bank Indonesia — Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2026
Pada Juli 2026 saja, BI-FAST memproses sekitar:
546 juta transaksi
Pertumbuhan:
+31,62% yoy
dengan nilai:
Rp1.355 triliun
Source:
Bank Indonesia — RDG Agustus 2026 / Data Juli 2026
Hal ini menunjukkan bahwa ekspansi pembayaran digital berlangsung melalui beberapa jenis penggunaan.
QRIS berkembang pada pembayaran merchant dan aktivitas transaksi sehari-hari, sementara BI-FAST menjadi bagian penting dari infrastruktur transfer dana ritel.
4. Research Signal #1 — Digital Payment Is Becoming Everyday Infrastructure
Salah satu signal paling menarik bukan sekadar besarnya pertumbuhan transaksi.
Signal yang lebih penting adalah luasnya basis penggunaan.
Ketika QRIS telah menjangkau lebih dari:
65 juta pengguna
dan hampir:
45 juta merchant
maka pembayaran digital semakin sulit dipandang hanya sebagai teknologi pembayaran alternatif.
Ia mulai berfungsi sebagai bagian dari infrastruktur transaksi sehari-hari.
Komposisi merchant juga memberikan konteks penting.
Sebanyak 96,68% merchant QRIS merupakan UMKM.
Evidence:
Bank Indonesia — Data QRIS Semester I 2026
Artinya, perluasan pembayaran digital tidak hanya terjadi di merchant besar, pusat perbelanjaan, atau perusahaan nasional.
Adopsinya telah menjangkau pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dalam skala sangat luas.
5. Research Signal #2 — Growth Is Still High, But the Growth Rate Is Moderating
Ada signal kedua yang perlu diamati.
Pertumbuhan QRIS masih sangat tinggi, tetapi laju pertumbuhannya mulai lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya:
Q1 2026: +116,43% yoy
Q2 2026: +100,12% yoy
Juli 2026: +82,42% yoy
Hal ini tidak berarti penggunaan QRIS menurun.
Semua angka tersebut masih menunjukkan pertumbuhan positif yang sangat tinggi.
Namun, semakin besar sebuah sistem, semakin besar pula basis pembandingnya.
Pertumbuhan persentase yang mulai melandai dapat terjadi ketika teknologi mulai bergerak dari fase:
early expansion
menuju:
mass adoption
dan kemudian:
maturing usage
Indonesia Digital Economy & Business Monitor belum menyimpulkan bahwa QRIS telah memasuki tahap maturity.
Evidence yang tersedia belum cukup untuk kesimpulan tersebut.
Namun, pola ini layak menjadi research lead untuk dipantau pada Research Update berikutnya.
6. Research Signal #3 — Adoption and Usage Need to Be Separated
Jumlah pengguna bukan satu-satunya indikator keberhasilan sistem pembayaran digital.
Ada perbedaan antara:
adoption
dan:
actual usage
Karena itu, penelitian berikutnya perlu melihat hubungan antara:
Users
↓
Merchants
↓
Transaction Frequency
↓
Transaction Value
↓
Economic Activity
Dengan kata lain:
Adoption menunjukkan seberapa luas teknologi telah menjangkau masyarakat. Usage membantu memahami seberapa dalam teknologi tersebut digunakan dalam aktivitas ekonomi.
Ini menjadi salah satu research question berikutnya.
7. What Does This Mean for Indonesia’s Digital Economy?
Digital Behavior Is Becoming Embedded
Pembayaran digital semakin menjadi bagian dari perilaku transaksi masyarakat.
Ketika transaksi digital telah mencapai miliaran transaksi dalam satu bulan, penggunaannya mulai mencerminkan aktivitas ekonomi sehari-hari dalam skala besar.
MSMEs Are Part of the Digital Payment Infrastructure
Proporsi merchant QRIS yang didominasi UMKM menunjukkan bahwa digitalisasi pembayaran tidak hanya berlangsung pada bisnis besar.
Hal ini penting karena UMKM merupakan bagian besar dari struktur usaha Indonesia.
Payment Infrastructure Is Scaling Alongside Adoption
Pertumbuhan BI-FAST menunjukkan bahwa sisi infrastruktur juga berkembang bersama penggunaan layanan pembayaran digital.
Transformasi tidak hanya terjadi pada interface yang dilihat pengguna, tetapi juga pada sistem pembayaran yang menopang transaksi.
8. What We Cannot Conclude Yet
Research Update ini tidak menyimpulkan bahwa:
seluruh ekonomi Indonesia telah terdigitalisasi;
QRIS menggantikan seluruh metode pembayaran lainnya;
pertumbuhan pembayaran digital otomatis meningkatkan produktivitas;
peningkatan transaksi digital secara langsung menyebabkan pertumbuhan ekonomi;
atau QRIS telah mencapai tahap maturity.
Evidence yang tersedia menunjukkan pertumbuhan aktivitas pembayaran digital.
Hubungan dengan produktivitas, konsumsi, revenue bisnis, inklusi keuangan, maupun pertumbuhan ekonomi memerlukan analisis tambahan.
9. E-Commerce as the Next Evidence Layer
Pembayaran digital hanya satu bagian dari ekonomi digital.
Untuk memahami perkembangan yang lebih luas, Indonesia Digital Economy & Business Monitor juga perlu menghubungkan pembayaran digital dengan aktivitas e-commerce.
Badan Pusat Statistik telah menerbitkan Statistik E-Commerce 2024.
Publikasi tersebut memuat antara lain:
profil usaha;
karakteristik pekerja;
aktivitas usaha;
nilai transaksi e-commerce;
serta estimasi pada tingkat provinsi.
Primary Evidence:
Badan Pusat Statistik — Statistik E-Commerce 2024
Evidence layer berikutnya dapat menghubungkan:
Digital Payments
E-Commerce Activity
Business Characteristics
Consumer Behavior
Technology Adoption
Dengan demikian, penelitian dapat bergerak dari sekadar memantau transaksi pembayaran menuju pemahaman yang lebih luas mengenai ekonomi digital Indonesia.
10. Initial Research Finding
Berdasarkan evidence yang tersedia sampai Juli 2026, Research Update #001 menghasilkan initial finding:
Aktivitas pembayaran digital Indonesia tetap tumbuh kuat pada 2026, dengan QRIS menjadi salah satu pendorong utama perluasan transaksi digital. Pertumbuhan jumlah pengguna dan merchant—terutama dominasi UMKM dalam basis merchant—menunjukkan bahwa pembayaran digital semakin menyebar ke aktivitas ekonomi sehari-hari.
Namun terdapat signal tambahan:
Laju pertumbuhan QRIS mulai lebih rendah dibandingkan awal 2026, meskipun tetap berada pada tingkat yang sangat tinggi. Perubahan ini perlu terus dipantau untuk memahami bagaimana pola penggunaan berkembang ketika basis adopsi semakin besar.
Finding Status:
INITIAL — REQUIRES CONTINUED OBSERVATION
11. What We Will Monitor Next
QRIS Adoption
Apakah jumlah pengguna dan merchant terus bertambah?
Transaction Intensity
Apakah transaksi per pengguna atau per merchant meningkat?
Transaction Value
Bagaimana nilai transaksi berkembang dibandingkan volume?
Growth Normalization
Apakah growth rate QRIS terus menurun ketika basis penggunaan semakin besar?
MSME Digitalization
Bagaimana pembayaran digital berkaitan dengan digitalisasi UMKM?
E-Commerce
Bagaimana aktivitas e-commerce bergerak bersama perkembangan pembayaran digital?
Regional Pattern
Apakah adoption dan aktivitas transaksi memiliki pola berbeda antarwilayah?
12. Research Update Status
Research Program: Indonesia Digital Economy & Business Monitor
LEVEL 1 — Research Foundation
● Published
LEVEL 2 — Research Updates
● Active — Research Update #001
LEVEL 3 — Insights & Case Studies
○ Preparing
Research Update ini merupakan bagian dari living research.
Temuan dapat diperbarui apabila tersedia data baru, perubahan definisi, revisi statistik, atau evidence tambahan.
13. Limitations
Research Update #001 memiliki beberapa keterbatasan.
Pertama, fokus utama update ini adalah digital payments, sehingga belum merepresentasikan keseluruhan ekonomi digital Indonesia.
Kedua, growth rate antarperiode tidak selalu dapat dibandingkan secara langsung tanpa mempertimbangkan basis pembanding dan seasonality.
Ketiga, pertumbuhan transaksi tidak secara otomatis menunjukkan peningkatan produktivitas, profitabilitas bisnis, atau kesejahteraan pengguna.
Keempat, jumlah pengguna dan merchant tidak selalu sama dengan jumlah pengguna atau merchant yang aktif bertransaksi.
Kelima, hubungan sebab-akibat tidak dapat disimpulkan hanya dari beberapa indikator yang bergerak pada waktu yang sama.
Karena itu, findings harus dibaca sebagai bagian dari proses penelitian yang terus berkembang.
14. Sources & Evidence
Primary Sources
1. Bank Indonesia — Laporan Kebijakan Moneter Triwulan I 2026
Digunakan untuk:
volume pembayaran digital Q1 2026;
pertumbuhan pembayaran digital Q1;
pertumbuhan QRIS Q1.
2. Bank Indonesia — Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2026
Published: 23 July 2026
Digunakan untuk:
volume pembayaran digital Q2 2026;
pertumbuhan pembayaran digital;
pertumbuhan QRIS;
BI-FAST transaction volume;
BI-FAST transaction value.
3. Bank Indonesia — Kartu Kredit Indonesia dan Kebijakan MDR 0%
Published: 17 August 2026
Digunakan untuk:
65,77 juta pengguna QRIS;
6,23 juta pengguna baru;
44,86 juta merchant;
96,68% merchant UMKM;
12,55 miliar transaksi semester I 2026;
nilai transaksi Rp1,12 kuadriliun;
pertumbuhan nominal 93,92% yoy.
4. Bank Indonesia — RDG Agustus 2026 / Data Juli 2026
Digunakan untuk:
5,50 miliar transaksi pembayaran digital Juli 2026;
pertumbuhan 28,69% yoy;
pertumbuhan QRIS 82,42% yoy;
546 juta transaksi BI-FAST;
pertumbuhan BI-FAST 31,62% yoy;
nilai BI-FAST Rp1.355 triliun.
5. Badan Pusat Statistik — Statistik E-Commerce 2024
Published: 28 November 2025
Digunakan sebagai evidence layer untuk penelitian selanjutnya mengenai:
profil usaha e-commerce;
karakteristik pekerja;
aktivitas usaha;
nilai transaksi;
estimasi tingkat provinsi.
15. Research Note
Angka dapat menunjukkan bahwa sesuatu sedang berubah.
Tetapi angka saja belum menjelaskan:
mengapa perubahan terjadi,
seberapa penting perubahan tersebut,
atau:
apa artinya bagi ekonomi dan bisnis.
Karena itu, Indonesia Digital Economy & Business Monitor tidak berhenti pada:
“QRIS tumbuh 82,42%.”
Pertanyaan berikutnya adalah:
Mengapa masih tumbuh sangat cepat?
Siapa yang menggunakan?
Seberapa aktif penggunaannya?
Apa hubungannya dengan aktivitas ekonomi?
Dan apakah pola tersebut bertahan?
Di situlah data mulai berubah menjadi research.
Continue Exploring ArrezaMP Research
← Indonesia Digital Economy & Business Monitor — Research Foundation v0.1
← Back to ArrezaMP Research Hub
Indonesia Digital Economy & Business Monitor
Research Update #001
ArrezaMP Research — Research & Evidence Intelligence
Evidence before conclusion. Analysis before decision.
Understand → Evidence → Analyze → Insight → Implication → Improve

0 Komentar