Laba & Utang: Screening Saham 'Hidden Gem' 2026 Menggunakan Analisis Dasar
Selamat datang di awal tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru saja menembus level psikologis baru di angka 8.700-an, dan aura optimisme menyelimuti Bursa Efek Indonesia. Namun, bagi Anda yang baru terjun ke dunia investasi, melihat ribuan angka hijau dan merah di layar ponsel mungkin terasa seperti melihat kode rahasia yang sulit dipecahkan.
Banyak investor pemula terjebak pada strategi "ikut-ikutan" atau FOMO (Fear of Missing Out). Mereka membeli saham karena sedang trending di media sosial atau karena rekomendasi influencer, tanpa benar-benar memahami apa yang mereka beli. Padahal, kunci untuk meraih keuntungan berkelanjutan bukan pada menebak harga besok pagi, melainkan pada kemampuan menemukan "Hidden Gem"—perusahaan luar biasa yang harganya masih "salah" di mata pasar.
Bagaimana cara menemukannya? Jawabannya ada pada dua pilar utama: Laba dan Utang. Artikel ini akan memandu Anda melakukan screening saham menggunakan analisis dasar (fundamental) dengan gaya bahasa yang santai namun tetap presisi, agar Anda siap menjadi pemburu harta karun di pasar modal 2026.
Apa Itu Saham 'Hidden Gem'?
Sebelum kita masuk ke teknis, mari kita samakan persepsi. Saham hidden gem bukanlah saham gorengan yang naik 25% dalam sehari lalu hilang keesokan harinya. Hidden gem adalah perusahaan dengan fundamental yang sangat kuat, pertumbuhan laba yang konsisten, beban utang yang sehat, namun karena satu dan lain hal (misalnya kurangnya liputan analis atau sektor yang sedang tidak populer), harganya masih terdiskon jauh di bawah nilai intrinsiknya.
Mencari saham seperti ini mirip dengan mencari mutiara di dasar laut. Anda tidak akan menemukannya di permukaan yang ramai; Anda harus menyelam sedikit lebih dalam menggunakan alat yang bernama Analisis Fundamental.
1. Analisis Laba: Jantung dari Setiap Perusahaan
Laba adalah alasan utama mengapa sebuah perusahaan ada. Tanpa laba, sebuah bisnis hanyalah hobi yang mahal. Bagi investor, laba adalah "bahan bakar" yang menggerakkan harga saham ke atas dalam jangka panjang.
Pertumbuhan Laba Bersih (Net Profit Growth)
Langkah pertama dalam screening adalah melihat apakah perusahaan mencetak keuntungan yang terus bertumbuh. Di tahun 2026, kita mencari perusahaan yang mampu beradaptasi dengan ekonomi digital dan perubahan iklim. Jangan hanya melihat satu tahun terakhir. Lihatlah tren dalam 3 hingga 5 tahun.
Idealnya: Pertumbuhan laba tahunan (CAGR) minimal 10-15%.
Red Flag: Laba yang naik-turun secara drastis (kecuali perusahaan siklikal seperti komoditas) atau laba yang berasal dari "pendapatan lain-lain" (seperti menjual aset), bukan dari operasional utama.
Profitabilitas: ROE dan NPM
Dua rasio ini adalah "tes kesehatan" paling cepat untuk melihat seberapa efisien perusahaan mengelola uang Anda:
Return on Equity (ROE): Mengukur seberapa besar keuntungan yang dihasilkan dari modal pemilik. Di tahun 2026, perusahaan hidden gem biasanya memiliki ROE di atas 15%. Ini menunjukkan manajemen sangat mahir memutar modal menjadi cuan.
Net Profit Margin (NPM): Mengukur berapa persen sisa uang dari total penjualan setelah dikurangi semua biaya. Perusahaan dengan NPM tinggi biasanya memiliki "Moat" atau benteng pertahanan bisnis yang kuat, sehingga mereka tidak perlu perang harga dengan kompetitor.
| Rasio | Kategori 'Hidden Gem' | Kategori Berisiko |
| ROE | > 15% | < 5% |
| NPM | > 10% (Tergantung Sektor) | Tipis (< 2%) |
| EPS Growth | Konsisten Naik | Terus Menurun |
2. Analisis Utang: Membedakan 'Beban' dan 'Leverage'
Banyak investor pemula takut pada kata "utang". Padahal, utang tidak selamanya buruk. Utang bisa menjadi mesin akselerasi pertumbuhan jika dikelola dengan benar. Namun, di tengah kondisi suku bunga tahun 2026 yang mungkin masih fluktuatif, utang yang terlalu besar bisa menjadi "bom waktu".
DER (Debt to Equity Ratio)
Rasio ini membandingkan total utang dengan total modal sendiri.
Aturan Umum: Cari perusahaan dengan DER di bawah 1,0 (atau 100%). Artinya, utangnya tidak lebih besar dari modalnya.
Pengecualian: Sektor perbankan dan infrastruktur biasanya memiliki DER tinggi. Untuk sektor ini, gunakan tolok ukur yang berbeda.
ICR (Interest Coverage Ratio)
Ini adalah rasio yang sering dilupakan pemula. ICR mengukur seberapa mampu perusahaan membayar bunga utangnya dari laba operasionalnya.
Aman: ICR di atas 3. Artinya, laba perusahaan sanggup membayar bunga utang 3 kali lipat.
Bahaya: ICR di bawah 1,5. Jika laba turun sedikit saja, perusahaan bisa gagal bayar bunga dan terancam bangkrut.
3. Valuasi: Berapa Harga yang Pantas?
Setelah menemukan perusahaan yang labanya bagus dan utangnya sehat, langkah terakhir adalah memastikan Anda tidak membeli di harga yang kemahalan. Sebagus apapun perusahaannya, jika Anda membelinya di harga puncak, potensi keuntungannya akan sangat kecil.
PER (Price to Earning Ratio)
Membandingkan harga saham dengan laba per sahamnya. Secara sederhana, PER memberi tahu kita berapa tahun modal kita akan kembali jika perusahaan membagikan semua labanya.
Tips 2026: Bandingkan PER saham tersebut dengan rata-rata PER industrinya. Jika rata-rata industri 15x dan saham pilihan Anda masih 8x padahal fundamentalnya lebih bagus, itulah hidden gem.
PBV (Price to Book Value)
Membandingkan harga saham dengan nilai aset bersihnya. PBV di bawah 1,0 sering dianggap murah (undervalued), namun hati-hati. Terkadang PBV rendah karena perusahaannya memang "rusak". Cari yang PBV-nya rendah (misal 0,5x - 1,2x) tapi memiliki ROE yang tinggi.
Sektor Potensial di Tahun 2026
Berdasarkan kondisi ekonomi saat ini, ada beberapa sektor yang diprediksi akan melahirkan banyak hidden gem:
Teknologi & Digital Infrastructure: Perusahaan yang menyediakan tulang punggung digital bagi UMKM dan korporasi.
Energi Terbarukan & Logam Mineral: Seiring transisi global menuju ekonomi hijau, emiten yang bergerak di pengolahan nikel atau penyedia panel surya akan sangat menarik.
Consumer Non-Cyclicals: Perusahaan kebutuhan pokok yang memiliki merek kuat. Mereka tahan banting meski terjadi inflasi.
Kesehatan & Farmasi: Fokus masyarakat pada gaya hidup sehat pasca-pandemi menciptakan peluang jangka panjang bagi produsen vitamin dan penyedia layanan medis berbasis teknologi.
Cara Melakukan Screening Secara Mandiri
Anda tidak perlu menjadi ahli matematika untuk melakukan ini. Di tahun 2026, sudah banyak aplikasi gratis yang menyediakan fitur stock screener. Berikut langkah praktisnya:
Buka Aplikasi Screener: Gunakan fitur filter.
Set Kriteria Profit: Pilih ROE > 15% dan Net Profit Growth > 10%.
Set Kriteria Keamanan: Pilih DER < 1,0.
Set Kriteria Harga: Pilih PER < 10x atau PBV < 1,5x.
Cek Manual: Dari daftar yang muncul, baca laporan tahunan (Annual Report) mereka. Apakah bisnisnya Anda pahami? Apakah manajemennya punya reputasi baik?
Kesimpulan: Disiplin adalah Kunci
Investasi saham bukan tentang menjadi pintar dalam semalam, tapi tentang menjadi disiplin setiap hari. Menemukan hidden gem di tahun 2026 membutuhkan kesabaran. Pasar mungkin tidak langsung menyadari nilai saham yang Anda temukan, dan harganya mungkin tidak langsung naik besok. Namun, seperti kata investor legendaris Benjamin Graham: "Dalam jangka pendek pasar adalah mesin voting, tapi dalam jangka panjang pasar adalah mesin timbang." Fundamental yang berat (bagus) pada akhirnya akan membuat timbangan harga naik ke atas.
Jangan biarkan diri Anda terombang-ambing oleh berita harian. Fokuslah pada Laba (apakah perusahaan menghasilkan uang?) dan Utang (apakah perusahaan dalam posisi aman?). Jika kedua jawaban itu adalah "Ya" dan harganya masih murah, Anda mungkin baru saja menemukan tiket menuju kebebasan finansial.
baca juga: Bitcoin: Aset Digital? Membongkar 7 Mitos Paling Berbahaya Tentang Cryptocurrency Pertama Dunia
baca juga: Regulasi Cryptocurrency di Indonesia: Hal yang Wajib Diketahui Investor






0 Komentar