KONGRES XVI IKATAN PUSTAKAWAN INDONESIA DAN SEMINAR ILMIAH NASIONAL 2025
Tema: “Pustakawan di Era Kecerdasan Buatan: Peluang dan Tantangan”
Lokasi: Batam, 17–19 September 2025
Artikel: Pustakawan di Era Kecerdasan Buatan – Antara Peluang dan Tantangan
Pendahuluan
Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat dalam dua dekade terakhir telah membawa perubahan signifikan pada hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Dari cara kita berkomunikasi, bekerja, belajar, hingga mengakses informasi, semuanya dipengaruhi oleh inovasi teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Kehadiran AI tidak hanya berdampak pada sektor industri dan bisnis, tetapi juga pada dunia kepustakawanan yang selama ini berperan penting dalam pengelolaan, penyimpanan, dan diseminasi informasi.
Di tengah arus perubahan tersebut, Kongres XVI Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) dan Seminar Ilmiah Nasional 2025 yang digelar di Kota Batam pada 17–19 September 2025 hadir sebagai momentum strategis. Mengangkat tema “Pustakawan di Era Kecerdasan Buatan: Peluang dan Tantangan”, kegiatan ini menjadi ruang bagi pustakawan, akademisi, praktisi, serta pemangku kebijakan untuk berdiskusi mendalam mengenai transformasi peran pustakawan di era digital.
Kegiatan berskala nasional ini juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Hadirnya Gubernur Kepulauan Riau, H. Ansar Ahmad, S.E., M.M., dan Wakil Gubernur, Nyanyang Haris Pratamura, S.E., M.Si., menjadi bentuk nyata komitmen pemerintah daerah untuk mendorong peningkatan literasi informasi dan peran pustakawan di tengah revolusi teknologi.
Sejarah dan Peran Strategis Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI)
Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) merupakan organisasi profesi yang telah berdiri sejak tahun 1973. Tujuan utama organisasi ini adalah memperjuangkan kepentingan pustakawan, meningkatkan kualitas layanan perpustakaan, serta memperkuat peran pustakawan sebagai garda terdepan dalam penyebaran ilmu pengetahuan.
Selama lebih dari lima dekade, IPI telah menjadi wadah komunikasi, kolaborasi, dan advokasi bagi pustakawan di seluruh Indonesia. Seiring dengan berkembangnya teknologi, IPI terus berupaya mengarahkan anggotanya untuk beradaptasi dengan perubahan zaman. Jika dahulu perpustakaan hanya identik dengan rak-rak buku dan katalog manual, kini pustakawan harus mampu mengelola perpustakaan digital, sistem informasi berbasis data besar (big data), hingga pemanfaatan kecerdasan buatan.
Kongres yang rutin diselenggarakan setiap lima tahun sekali menjadi ajang penting bagi IPI untuk mengevaluasi capaian, menyusun strategi baru, serta memperkuat jaringan kerja sama lintas sektor. Kongres XVI di Batam tahun 2025 ini menjadi sangat istimewa karena berlangsung di era di mana AI mulai mengambil peran besar dalam sistem informasi global.
Tema Sentral: Pustakawan di Era Kecerdasan Buatan
Tema “Pustakawan di Era Kecerdasan Buatan: Peluang dan Tantangan” dipilih bukan tanpa alasan. Kehadiran AI telah mengubah cara manusia mencari, mengolah, dan menggunakan informasi. Mesin pencari berbasis algoritma cerdas, chatbot, sistem rekomendasi, hingga analisis big data kini mampu menggantikan sebagian fungsi pustakawan tradisional. Namun, bukan berarti peran pustakawan menjadi tidak relevan. Justru sebaliknya, AI membuka peluang baru bagi pustakawan untuk meningkatkan kualitas layanan, memperluas jangkauan, dan memperkuat posisi mereka dalam ekosistem informasi.
Beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan pustakawan di era AI antara lain:
-
Automasi Layanan Perpustakaan
Pustakawan dapat memanfaatkan AI untuk mempercepat proses katalogisasi, klasifikasi, hingga pengelolaan koleksi digital. Sistem berbasis AI mampu mengidentifikasi metadata secara otomatis, sehingga pekerjaan teknis pustakawan bisa lebih efisien. -
Sistem Rekomendasi Pintar
Dengan teknologi AI, perpustakaan dapat menghadirkan layanan rekomendasi buku, artikel, atau jurnal sesuai minat pembaca. Hal ini mirip dengan sistem yang digunakan platform e-commerce atau streaming digital. -
Analisis Data Pengguna
AI memungkinkan pustakawan menganalisis perilaku pengguna perpustakaan. Data ini dapat digunakan untuk meningkatkan layanan, memperbarui koleksi, serta menyusun program literasi yang lebih tepat sasaran. -
Layanan Informasi Berbasis Chatbot
Chatbot berbasis AI dapat membantu menjawab pertanyaan sederhana dari pengguna perpustakaan secara cepat, kapan pun dibutuhkan.
Namun di balik peluang tersebut, ada pula tantangan besar yang harus dihadapi:
-
Kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM)
Tidak semua pustakawan memiliki kemampuan teknis dalam memanfaatkan AI. Dibutuhkan pelatihan intensif agar mereka mampu menguasai teknologi ini. -
Etika dan Privasi Data
Pemanfaatan AI dalam analisis data pengguna menimbulkan isu etika, terutama terkait privasi dan keamanan informasi. -
Ketergantungan pada Teknologi
Jika perpustakaan terlalu bergantung pada AI, ada risiko berkurangnya interaksi manusiawi antara pustakawan dan pengguna. -
Kesenjangan Akses Teknologi
Tidak semua perpustakaan, terutama di daerah terpencil, memiliki infrastruktur memadai untuk mengimplementasikan layanan berbasis AI.
Peran Batam sebagai Tuan Rumah
Pemilihan Kota Batam sebagai lokasi Kongres XVI IPI bukan tanpa alasan. Sebagai salah satu kota terbesar di Kepulauan Riau, Batam dikenal sebagai pusat industri, perdagangan, dan pariwisata. Letaknya yang strategis di jalur internasional membuat Batam menjadi kota kosmopolitan dengan keragaman budaya dan akses informasi yang luas.
Selain itu, Batam juga sedang gencar membangun ekosistem digital. Kehadiran infrastruktur telekomunikasi yang maju, dukungan pemerintah daerah, serta kedekatannya dengan Singapura dan Malaysia menjadikan Batam sebagai tempat yang ideal untuk membicarakan isu-isu teknologi, termasuk kecerdasan buatan.
Dengan latar belakang tersebut, kongres ini diharapkan dapat memberikan warna baru bagi perkembangan dunia perpustakaan di Indonesia. Batam tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga simbol keterbukaan terhadap inovasi dan kolaborasi lintas sektor.
Rangkaian Kegiatan Kongres dan Seminar
Kongres XVI IPI dan Seminar Ilmiah Nasional 2025 dirancang dengan beragam agenda yang komprehensif, mencakup:
-
Sidang Organisasi IPI
Membahas laporan pertanggungjawaban kepengurusan sebelumnya, menyusun program kerja baru, serta memilih kepengurusan periode berikutnya. -
Seminar Ilmiah Nasional
Menghadirkan pakar teknologi, pustakawan senior, akademisi, dan praktisi AI untuk membahas peluang serta tantangan penerapan kecerdasan buatan dalam dunia kepustakawanan. -
Workshop dan Pelatihan
Memberikan pelatihan teknis kepada pustakawan mengenai pemanfaatan AI, big data, dan sistem informasi digital. -
Pameran Inovasi Perpustakaan
Menampilkan karya-karya inovatif pustakawan dari berbagai daerah, termasuk aplikasi digital, sistem katalog berbasis AI, hingga program literasi kreatif. -
Kegiatan Jejaring dan Kolaborasi
Menjadi ajang pertemuan antara pustakawan, akademisi, pemerintah, dan pelaku industri untuk menjalin kerja sama strategis.
Harapan dan Dampak Jangka Panjang
Kongres XVI IPI di Batam diharapkan mampu memberikan dampak positif yang luas, tidak hanya bagi pustakawan, tetapi juga bagi masyarakat secara umum. Beberapa harapan utama dari kegiatan ini antara lain:
-
Peningkatan Kompetensi Pustakawan
Dengan memahami dan memanfaatkan teknologi AI, pustakawan Indonesia dapat bersaing di tingkat global. -
Transformasi Perpustakaan
Perpustakaan tidak lagi sekadar menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat inovasi informasi yang adaptif terhadap perubahan zaman. -
Meningkatkan Literasi Digital Masyarakat
Pustakawan yang terampil dalam teknologi digital dapat membantu masyarakat lebih bijak dalam memanfaatkan informasi di era internet. -
Penguatan Identitas Profesi Pustakawan
Dengan menguasai teknologi canggih, pustakawan akan semakin dihargai sebagai profesi yang vital dalam mendukung pembangunan bangsa.
Penutup
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perkembangan kecerdasan buatan, pustakawan tetap memiliki peran yang tidak tergantikan. Justru dengan adanya teknologi, pustakawan dituntut untuk bertransformasi menjadi profesional yang lebih adaptif, inovatif, dan visioner. Kongres XVI Ikatan Pustakawan Indonesia dan Seminar Ilmiah Nasional 2025 di Batam menjadi tonggak penting dalam perjalanan tersebut.
Dengan tema besar “Pustakawan di Era Kecerdasan Buatan: Peluang dan Tantangan”, kegiatan ini mengingatkan kita bahwa pustakawan bukan sekadar penjaga buku, melainkan penjaga peradaban. Mereka adalah penghubung antara pengetahuan masa lalu, realitas masa kini, dan inovasi masa depan.

0 Komentar