Bitcoin anjlok ke US$95.000, memicu aksi jual besar dan kerugian miliaran dolar. Ekonom Peter Schiff, kritikus vokal crypto, justru bertepuk tangan dan meramalkan kehancuran lebih dalam. Artikel ini mengupas analisis Schiff, ketahanan para HODLer, data faktual di balik crash, dan pertarungan ideologis antara emas digital vs. emas fisik untuk masa depan keuangan Anda.
Kala Bitcoin Jatuh ke US$95.000, Kritikus Ini Justru Senang-Berharap Terus Anjlok
Dunia crypto kembali berdarah-darah. Layaknya rekaman yang diputar ulang, grafik merah menyala dan headline bernada panik sekali lagi membanjiri layar para trader. Aset kripto nomor satu di dunia, Bitcoin (BTC), tercatat mengalami penurunan tajam menuju level US$95.000, sebuah koreksi yang menusuk hati banyak investor. Dalam sepekan, nilainya merosot 9%, didorong oleh gelombang penjualan di pasar saham teknologi dan likuidasi posisi leverage fantastis senilai US$880 juta. Ini adalah babak lanjutan dari drama "market crash" Oktober lalu yang tanpa ampun menghapus hampir US$20 miliar dari total kapitalisasi pasar crypto.
Namun, di tengah lautan raut muka muram dan kepanikan kolektif, satu suara terdengar begitu berbeda—bahkan, terdengar riang. Suara itu berasal dari Peter Schiff, ekonom sekaligus kritikus Bitcoin paling vokal di dunia. Alih-alih berempati, Schiff justru memanfaatkan momen ini untuk memperdengarkan lagi lagu lama pesimismenya. Bagi dia, ini adalah validasi. Bagi dia, ini adalah awal dari akhir.
"Riwayat pemulihan Bitcoin di masa lalu dari setiap pasar bearish akan mencegah banyak HODLer untuk beralih ke aset lain selama bertahun-tahun mendatang," cuit Schiff di akun X-nya, dengan nada yang bagi sebagian orang terdengar seperti sebuah belas kasihan yang sinis.
Tapi, apakah kegembiraan Schiff prematur? Ataukah ini benar-benar pertanda bahwa "musim dingin crypto" yang sesungguhnya—yang lama dinanti-nantikan oleh para skeptis—akhirnya tiba? Untuk menjawabnya, kita harus menyelami lebih dalam retorika Schiff, menguji ketahanan komunitas HODLer, dan mempertanyakan: apakah kali ini benar-benar berbeda?
Peter Schiff: Nabi Kegagalan atau Realis yang Terlalu Sering Diabaikan?
Peter Schiff bukanlah pendatang baru dalam dunia kritik terhadap Bitcoin. Dia adalah seorang evangelis emas (gold bug) yang telah memperingatkan tentang kehancuran Bitcoin sejak harganya masih sepersekian dari nilai sekarang. Argumentasinya konsisten dan teguh: Bitcoin adalah aset yang tidak memiliki nilai intrinsik, tidak menghasilkan arus kas, sangat volatil, dan pada akhirnya akan kembali ke nol.
“Namun kali ini, alih-alih pulih, Bitcoin mungkin akan terus terpuruk. Seiring kerugian yang terus menumpuk, HODLer juga akan kehilangan peluang keuntungan dari aset lain,” lanjutnya dalam cuitan yang sama.
Peringatannya pada Agustus lalu, bahwa Bitcoin sedang menuju US$75.000, kini dibawakannya dengan nada "sudah kubilang". Bagi Schiff, Bitcoin adalah gelembung spekulatif murni yang bertahan hanya karena "Greater Fool Theory"—keyakinan bahwa akan selalu ada orang yang lebih bodoh yang mau membeli aset tersebut dengan harga lebih tinggi. Dia melihat emas sebagai satu-satunya penyimpan nilai yang sejati, aset yang telah teruji oleh waktu, memiliki utilitas industri, dan tidak bergantung pada listrik atau koneksi internet.
Tapi, bukankah kita sudah mendengar semua ini sebelumnya? Setiap kali Bitcoin mengalami koreksi—entah itu 20%, 50%, atau bahkan 80% seperti pada 2018—para kritikus selalu muncul dengan narasi yang sama. Dan setiap kali, sejauh ini, Bitcoin telah berhasil bangkit, mencapai rekor tinggi baru, dan membuat para pengkritiknya makan hati.
Lantas, apa yang membuat peringatan Schiff kali ini lebih relevan? Atau, apakah dia hanya seperti anak laki-laki yang menangis "serigala" di hutan finansial, di mana serigala itu tak kunjung datang?
Membedah Anatomi Crash: US$880 Juta Cair dan Runtuhnya Kepercayaan
Untuk memahami mengapa penurunan ini signifikan, kita perlu melihat di balik headline. Jatuhnya Bitcoin ke US$95.000 bukanlah peristiwa yang terisolasi. Ini adalah gejala dari penyakit yang lebih besar yang menjangkiti pasar keuangan global.
Gelombang Likuidasi Besar-besaran: Likuidasi posisi senilai US$880 juta dalam waktu singkat adalah pemicu teknis langsung. Ini menciptakan efek domino. Ketika posisi leverage besar dilikuidasi paksa, itu mendorong harga turun lebih dalam, yang memicu lebih banyak likuidasi lagi—sebuah "long squeeze" klasik yang memperburuk penurunan.
Korelasi dengan Saham Teknologi: Bitcoin, yang dulu dianggap sebagai aset yang tidak terkait (uncorrelated), kini semakin bergerak seiring dengan saham-saham teknologi berisiko tinggi seperti Nasdaq. Ketika investor khawatir tentang suku tinggi yang diperpanjang bank sentral atau prospek resesi, mereka menarik dana dari aset berisiko—baik itu saham tech maupun crypto. Penjualan di satu pasar memicu penjualan di pasar lainnya.
Tekanan Makroekonomi yang Tak Kunjung Reda: Inflasi yang bandel, kebijakan moneter yang ketat dari The Fed, dan ketegangan geopolitik menciptakan lingkungan yang bermusuhan dengan aset spekulatif. Dalam iklim seperti ini, uang mengalir ke tempat yang aman—seperti obligasi pemerintah atau, sesuai nubuatan Schiff, emas.
Data-data ini dapat diverifikasi melalui platform analisis crypto seperti CoinGlass dan laporan dari lembaga keuangan terkemuka. Mereka bukanlah opini, melainkan fakta yang membentuk realitas pasar saat ini. Jadi, apakah ini hanya koreksi sehat dalam bull market, atau awal dari perubahan tren yang lebih fundamental?
Para HODLer vs. Si Penjegal: Sebuah Pertarungan Ideologi Keuangan
Di seberang Schiff dan para pengikutnya, berdiri dengan teguhnya para "HODLer"—istilah untuk investor crypto yang memegang aset mereka melalui badai apa pun, berdasarkan keyakinan ideologis yang mendalam.
Bagi HODLer, kata-kata Schiff hanyalah bising. Mereka telah melalui siklus yang lebih buruk dan keluar sebagai pemenang. Narasi mereka dibangun di atas fondasi yang berbeda:
Kelangkaan Digital: Bitcoin terbatas hanya 21 juta koin. Ini adalah "emas digital" dengan suplai yang dapat diprediksi dan tidak bisa dimanipulasi oleh pemerintah mana pun.
Desentralisasi: Bitcoin adalah protokol uang yang independen, bebas dari kendali bank sentral dan intervensi pemerintah. Ini adalah nilai jual utama di era dimana cetak uara secara masif (quantitative easing) menjadi hal yang biasa.
Adopsi yang Terus Berkembang: Meskipun volatil, adopsi institusional melalui ETF, penerimaan oleh perusahaan besar, dan integrasi ke dalam sistem keuangan tradisional terus berlanjut. Bagi HODLer, ini adalah validasi jangka panjang.
Mereka melihat penurunan harga sebagai "sale season"—kesempatan untuk membeli aset berharga dengan harga diskon. Keyakinan mereka didasarkan pada sejarah: setelah setiap bear market, Bitcoin tidak hanya pulih, tetapi melampaui puncaknya sebelumnya.
Pertanyaannya adalah, sampai kapan keyakinan ini bisa bertahan? Jika kerugian berlanjut selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, akankah iman mereka goyah? Akankah mereka benar-benar, seperti yang dikhawatirkan Schiff, melewatkan peluang besar di pasar aset lain seperti saham atau komoditas?
Emas vs. Bitcoin: Perang Suci Penyimpan Nilai
Inti dari debat ini adalah pertarungan untuk merebut gelar "penyimpan nilai terbaik". Schiff mewakili dunia lama: emas, logam mulia yang berwujud, dengan sejarah 5.000 tahun sebagai alat tukar dan lindung nilai. Bitcoin adalah penantang dari dunia baru: digital, tanpa wujud, dan hanya berusia 15 tahun.
Argumen Emas (Schiff): Emas stabil, diakui secara universal, dan tidak dapat dihancurkan. Ia adalah aset safe haven saat krisis. Nilainya tidak bergantung pada algoritma atau sekelompok developer.
Argumen Bitcoin (HODLer): Emas tidak praktis untuk disimpan dan dipindahkan. Bitcoin dapat dikirim ke mana saja di dunia dalam hitungan menit. Kelangkaannya matematis dan terjamin, berbeda dengan emas yang suatu hari bisa saja ditemukan di asteroid atau melalui penambangan yang lebih efisien.
Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, dalam satu dekade terakhir, Bitcoin telah menunjukkan kinerja yang jauh melampaui emas dalam hal apresiasi harga. Tapi, seperti yang diingatkan oleh Schiff, kinerja masa lalu bukanlah jaminan untuk masa depan.
Kesimpulan: Siapa yang Akan Tertawa Terakhir?
Situasi saat ini adalah sebuah persimpangan. Di satu sisi, Peter Schiff dan para kritikus memiliki alasan yang valid untuk merasa diyakinkan. Tekanan makroekonomi, korelasi dengan aset berisiko, dan volatilitas ekstrem adalah kelemahan struktural Bitcoin yang nyata. Jika lingkungan suku tinggi ini bertahan lebih lama, kesabaran para HODLer akan diuji seperti never before.
Di sisi lain, komunitas Bitcoin telah terbukti sangat tangguh. Mereka telah melalui siklus kematian dan kelahiran kembali berkali-kali. Jaringan Bitcoin itu sendiri terus berjalan dengan aman, tanpa peduli pada sentimen pasar. Adopsi dan inovasi di lapangan terus berlanjut di balik teriakan harga.
Jadi, siapa yang benar?
Jawabannya mungkin terletak pada horizon waktu Anda. Schiff mungkin benar dalam jangka pendek hingga menengah jika badai makroekonomi bertambah parah. Namun, para HODLer mungkin masih benar dalam jangka panjang jika narasi fundamental Bitcoin tentang desentralisasi dan kelangkaan digital terbukti benar.
Pertanyaannya untuk Anda, pembaca: Di tengah kegaduhan antara nabi kiamat dan pionir masa depan, ke mana Anda akan memercayakan modal Anda? Apakah Anda akan mengikuti Schiff menuju pelabuhan emas yang aman, atau tetap berpegang pada keyakinan akan revolusi digital Bitcoin, memperlakukan setiap anjlokannya sebagai kesempatan emas yang lain?
Satu hal yang pasti: selama pertarungan ideologis ini berlangsung, pasar akan terus berfluktuasi. Dan bagaimanapun akhirnya, hanya waktu yang akan membuktikan siapa di antara mereka—Schiff atau para HODLer—yang akan tertawa terakhir.
baca juga: Bitcoin: Aset Digital? Membongkar 7 Mitos Paling Berbahaya Tentang Cryptocurrency Pertama Dunia
baca juga: Regulasi Cryptocurrency di Indonesia: Hal yang Wajib Diketahui Investor






0 Komentar