Berburu Saham Undervalued 2026: Kesempatan Emas di Tengah Ketidakpastian

  Investasi cerdas adalah kunci menuju masa depan berkualitas dengan menggabungkan pertumbuhan, perlindungan, dan keuntungan


Ingin tahu rahasia cuan di pasar modal tahun ini? Simak panduan mendalam "Berburu Saham Undervalued 2026". Kami membedah sektor perbankan, energi hijau, hingga konsumer untuk menemukan permata tersembunyi di tengah volatilitas global. Jangan terjebak value trap! Pelajari strategi selektif untuk mengamankan portofolio Anda di tahun transisi ekonomi ini.


Berburu Saham Undervalued 2026: Kesempatan Emas di Tengah Ketidakpastian

Oleh: Tim Jurnalis Investasi Utama Jakarta, 13 Januari 2026

Dunia investasi di awal tahun 2026 ini tampak seperti sebuah paradoks besar. Di satu sisi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru saja mencatatkan sejarah dengan menyentuh level psikologis baru di kisaran 8.900 hingga 9.000, didorong oleh euforia January Effect yang cukup agresif. Namun, di sisi lain, jika Anda mengintip di balik tirai angka-angka hijau tersebut, terdapat kegelisahan yang nyata. Inflasi global yang belum sepenuhnya jinak, fragmentasi perdagangan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Asia Timur, serta transisi energi yang memakan biaya besar, menciptakan kabut ketidakpastian yang tebal.

Namun, bukankah sejarah selalu mengajarkan bahwa kekayaan terbesar justru dibangun saat mayoritas orang sedang ragu? Seperti kata pepatah klasik Wall Street: "Be fearful when others are greedy, and greedy when others are fearful."

Tahun 2026 bukan sekadar tahun kalender biasa. Ini adalah tahun di mana model bisnis lama mulai rontok dan efisiensi berbasis Kecerdasan Buatan (AI) serta keberlanjutan (ESG) menjadi pembeda antara pemenang dan pecundang. Di tengah hiruk-pikuk ini, "berburu saham undervalued" atau saham yang salah harga (di bawah nilai intrinsiknya) bukan lagi sekadar pilihan strategi, melainkan kewajiban bagi mereka yang ingin selamat dan berjaya.

Apakah Anda akan menjadi salah satu investor yang hanya mengejar harga di puncak, ataukah Anda cukup jeli untuk menemukan "emas" yang tersembunyi di lumpur ketidakpastian?


Membedah Lanskap Ekonomi 2026: Mengapa Sekarang?

Untuk memahami mengapa saham undervalued menjadi primadona di tahun 2026, kita harus melihat gambaran besarnya. Ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh stabil di angka 5,2 persen. Bank Mandiri dan sejumlah lembaga keuangan internasional melihat konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama, namun ada variabel baru yang masuk ke dalam sistem: investasi infrastruktur digital.

Suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) yang mulai melandai memberikan napas bagi sektor-sektor yang sebelumnya tercekik biaya modal tinggi. Namun, pasar saham global masih sangat volatil. Ketegangan dagang antara blok Barat dan Timur memaksa banyak perusahaan untuk melakukan relokasi rantai pasok. Indonesia, dengan posisi netral dan kekayaan sumber daya alamnya, berada di posisi yang sangat unik.

Pertanyaannya kemudian, jika ekonomi membaik, mengapa masih banyak saham yang dihargai murah? Jawabannya terletak pada "ketakutan yang salah sasaran". Investor institusi seringkali terlalu fokus pada risiko makro sehingga mengabaikan fundamental mikro emiten yang sebenarnya sedang mencetak laba rekor. Inilah celah yang kita sebut sebagai mispricing.

Fenomena "Krisis yang Tidak Pernah Datang"

Sepanjang tahun 2025, banyak analis meramalkan resesi hebat yang ternyata tidak kunjung tiba di Indonesia. Akibatnya, banyak saham blue chip maupun second liner yang harganya tertahan di level rendah karena ekspektasi buruk yang tidak terealisasi. Saat memasuki kuartal pertama 2026, realitas menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap tangguh. Inilah saatnya harga mulai mengejar nilai aslinya.


Sektor Perbankan: Sang Raksasa yang Masih "Murah"

Tidak mungkin membicarakan pasar modal Indonesia tanpa menyentuh sektor keuangan. Perbankan adalah tulang punggung IHSG. Namun, ada sebuah anomali menarik di awal 2026. Meskipun bank-bank besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI terus melaporkan pertumbuhan laba dua digit, rasio Price to Book Value (PBV) beberapa di antaranya masih berada di bawah rata-rata historis lima tahun mereka.

Mengapa Perbankan Masih Undervalued?

Sentimen negatif terhadap ancaman kredit macet (NPL) di sektor properti dan konstruksi selama tahun 2024-2025 sempat menekan harga saham bank. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa bank-bank ini telah melakukan pencadangan (provisioning) yang lebih dari cukup. Dengan digitalisasi yang semakin matang, biaya operasional bank justru menurun secara drastis.

Bayangkan sebuah bank yang mampu menghasilkan profit triliunan rupiah setiap kuartal, memiliki likuiditas melimpah, namun dihargai seolah-olah mereka sedang menghadapi krisis likuiditas. Bukankah ini sebuah kegilaan pasar yang menguntungkan bagi investor jeli?

Apakah Anda akan menunggu sampai semua analis memberikan rating 'Strong Buy' di harga puncak, atau berani masuk sekarang saat valuasi masih masuk akal?


Revolusi Hijau dan Dilema Komoditas: Di Mana Peluangnya?

Sektor energi di tahun 2026 sedang mengalami pembelahan identitas. Di satu sisi, batu bara masih menjadi penyumbang devisa besar, namun di sisi lain, tekanan global untuk beralih ke energi bersih semakin tidak bisa dibendung.

Permata di Sektor EBT (Energi Baru Terbarukan)

Saham-saham seperti PGEO (Pertamina Geothermal Energy) atau emiten yang mulai mendiversifikasi portofolio ke panel surya dan angin, seringkali dianggap "mahal" secara P/E ratio tradisional. Namun, jika menggunakan valuasi berbasis arus kas masa depan (Discounted Cash Flow), banyak dari mereka yang sebenarnya masih sangat undervalued mengingat kontrak jangka panjang dan insentif pemerintah yang besar.

Nikel dan Ekosistem EV: Fase Konsolidasi

Setelah sempat mengalami gejolak harga komoditas pada 2024, sektor nikel yang diwakili oleh pemain besar seperti ANTM dan INCO kini memasuki fase stabilitas. Valuasi mereka saat ini mencerminkan harga nikel yang konservatif. Padahal, permintaan global untuk baterai kendaraan listrik (EV) diprediksi akan meledak kembali pada pertengahan 2026 seiring dengan selesainya pembangunan beberapa pabrik baterai raksasa di Indonesia.

Investasi di sektor ini membutuhkan kesabaran. Ini bukan tentang apa yang terjadi minggu depan, melainkan tentang siapa yang akan menguasai rantai pasok energi dunia dalam lima tahun ke depan.


Sektor Konsumer: Kebangkitan Daya Beli yang Terabaikan

Selama dua tahun terakhir, sektor konsumer primer sering dianaktirikan. Investor lebih memilih saham teknologi yang volatil atau komoditas yang meledak-ledak. Akibatnya, emiten seperti ICBP, KLBF, atau bahkan pemain ritel seperti ACES diperdagangkan pada valuasi yang sangat menarik.

Pada tahun 2026, dengan inflasi yang lebih terkendali dan kenaikan upah riil, konsumsi domestik diprediksi akan mengalami rebound yang signifikan. Masyarakat mulai kembali ke pola konsumsi normal, bahkan lebih tinggi.

"Saham konsumer adalah pelabuhan yang aman saat badai, namun mereka adalah mesin keuntungan saat ekonomi cerah kembali," ujar seorang manajer investasi senior di Jakarta.

Pertanyaan retorisnya: Jika Anda menggunakan produk mereka setiap hari, melihat toko mereka selalu ramai, mengapa Anda ragu untuk memiliki sahamnya saat harganya sedang "diskon"?


Ancaman "Value Trap": Hati-Hati dengan Harga Murah!

Dalam berburu saham undervalued, ada satu monster yang selalu mengintai: Value Trap (Jebakan Nilai). Ini adalah kondisi di mana sebuah saham terlihat murah secara statistik (P/E rendah, PBV rendah), namun harganya tidak pernah naik, atau bahkan terus turun karena fundamental bisnisnya memang sedang hancur.

Cara Membedakan Undervalued vs. Value Trap

  1. Pertumbuhan Laba: Saham undervalued biasanya memiliki laba yang stabil atau tumbuh, sementara value trap memiliki laba yang terus merosot.

  2. Katalis Masa Depan: Apakah perusahaan memiliki rencana ekspansi atau inovasi? Tanpa katalis, saham murah akan tetap murah selamanya.

  3. Tingkat Utang: Jangan tertipu oleh harga murah jika perusahaan tersebut sedang tercekik utang yang bunganya lebih besar dari laba operasionalnya.

Di tahun 2026, banyak perusahaan di sektor konstruksi konvensional yang terjebak dalam masalah utang. Meskipun harga sahamnya terlihat sangat rendah secara historis, mereka bisa jadi adalah value trap yang harus dihindari kecuali ada restrukturisasi besar-besaran.


Strategi Jurnalistik: Mengikuti Jejak "Smart Money"

Jika kita memperhatikan data kepemilikan saham, investor asing mulai kembali masuk ke pasar Indonesia di awal 2026. Mereka tidak membeli saham-saham gorengan yang viral di media sosial. Mereka mengincar saham undervalued dengan kapitalisasi pasar besar dan menengah.

Sebagai investor ritel, strategi terbaik adalah "mengintip" ke mana arah dana besar ini bergerak. Perhatikan volume transaksi. Jika harga saham masih stagnan namun volume akumulasi terus meningkat, itu adalah sinyal bahwa para raksasa sedang mengumpulkan posisi.


Mengapa Teknologi (AI) Mengubah Cara Kita Menilai Valuasi?

Di tahun 2026, kita tidak bisa lagi menilai perusahaan hanya dari aset fisiknya. AI telah mengubah struktur biaya perusahaan. Perusahaan yang mampu mengadopsi AI untuk efisiensi operasional akan memiliki margin keuntungan yang jauh lebih lebar.

Contohnya, perusahaan manufaktur yang dulunya dianggap "tua dan lamban" bisa menjadi sangat berharga jika mereka berhasil mengimplementasikan otomatisasi penuh. Valuasi mereka mungkin terlihat tinggi di permukaan, tetapi jika dilihat dari potensi penghematan biaya di masa depan, mereka adalah permata yang undervalued.


Panduan Langkah Demi Langkah Berburu Saham di 2026

Bagi Anda yang siap untuk mengambil kesempatan emas ini, berikut adalah daftar periksa (checklist) yang harus dilakukan:

  1. Skrining Rasio Keuangan: Cari perusahaan dengan ROE (Return on Equity) di atas 15%, namun P/E ratio masih di bawah rata-rata industrinya.

  2. Cek Dividen Yield: Saham undervalued yang berkualitas biasanya tetap royal membagikan dividen. Yield di atas 5% adalah bonus yang sangat manis sambil menunggu kenaikan harga (capital gain).

  3. Analisis Manajemen: Siapa di balik kemudi? Di masa ketidakpastian, manajemen yang jujur dan kompeten adalah aset yang paling berharga.

  4. Diversifikasi Selektif: Jangan letakkan semua uang Anda di satu saham "murah". Pilihlah 3-5 saham dari sektor yang berbeda untuk meminimalkan risiko.


Kesimpulan: Keberanian adalah Mata Uang Sesungguhnya

Berburu saham undervalued di tahun 2026 memerlukan lebih dari sekadar kemampuan membaca grafik atau laporan keuangan. Ia memerlukan keberanian untuk melawan arus. Saat media massa sibuk memberitakan perang di belahan dunia lain atau fluktuasi mata uang, investor yang cerdas akan tetap fokus pada nilai intrinsik perusahaan.

Ketidakpastian bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dimanfaatkan. Harga saham adalah apa yang Anda bayar, tetapi nilai adalah apa yang Anda dapatkan. Di tengah gejolak 2026, pasar modal Indonesia menawarkan banyak "diskon" bagi mereka yang mau bersabar dan teliti.

Apakah Anda akan membiarkan kesempatan ini berlalu dan menyesal saat IHSG menyentuh 10.000 nantinya? Ataukah Anda akan mulai menyusun portofolio Anda hari ini?

Keputusan ada di tangan Anda. Ingatlah, dalam dunia investasi, waktu terbaik untuk menanam pohon adalah sepuluh tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua adalah sekarang.


Daftar Istilah (Glossary) untuk Investor 2026:

  • IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan): Barometer kesehatan pasar modal Indonesia.

  • Undervalued: Kondisi saham yang dijual di bawah harga wajarnya.

  • P/E Ratio (Price to Earnings Ratio): Rasio harga saham terhadap laba bersih per saham.

  • PBV (Price to Book Value): Perbandingan harga saham dengan nilai buku perusahaan.

  • Dividend Yield: Persentase keuntungan yang dibagikan perusahaan kepada pemegang saham.

  • ESG (Environmental, Social, and Governance): Standar investasi berkelanjutan.


Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis jurnalistik, bukan merupakan perintah beli atau jual. Investasi saham memiliki risiko tinggi. Pastikan Anda melakukan analisis mandiri atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan profesional sebelum mengambil keputusan investasi.


Apakah Anda memiliki saham pilihan yang menurut Anda sedang 'salah harga' saat ini? Mari berdiskusi di kolom komentar dan bagikan analisis Anda bersama komunitas investor lainnya!




Strategi ini mencerminkan tren investasi modern yang aman dan berkelanjutan, Dengan pendekatan futuristik, investasi menjadi solusi tepat untuk membangun stabilitas finansial jangka panjang


Bitcoin adalah Aset Digital atau Agama Baru Membongkar 7 Mitos Paling Berbahaya Tentang Cryptocurrency Pertama Dunia

baca juga: Bitcoin: Aset Digital? Membongkar 7 Mitos Paling Berbahaya Tentang Cryptocurrency Pertama Dunia

Tips Psikologis untuk Menabung Crypto.

baca juga: Cara memahami aspek psikologis dalam investasi kripto dan bagaimana membangun strategi yang kuat untuk menabung dalam jangka panjang

Cara mulai investasi dengan modal kecil untuk pemula di tahun 2024, tips aman bagi pemula, dan platform online terbaik untuk investasi, ciri ciri saham untuk investasi terbaik bagi pemula

baca juga: Cara mulai investasi dengan modal kecil untuk pemula di tahun 2024, tips aman bagi pemula, dan platform online terbaik untuk investasi, ciri ciri saham untuk investasi terbaik bagi pemula

Regulasi Cryptocurrency di Indonesia: Hal yang Wajib Diketahui Investor

baca juga: Regulasi Cryptocurrency di Indonesia: Hal yang Wajib Diketahui Investor

0 Komentar