MILYADER CUMI KERTAS: KISAH BRIAN ARMSTRONG DAN MUZZLELOAD PARA RAJA KRIPTO YANG TERSINGKIR

Investasi cerdas adalah kunci menuju masa depan berkualitas dengan menggabungkan pertumbuhan, perlindungan, dan keuntungan

baca juga: Bukan Sekadar Aman: 5 Saham Blue Chip 'Tidur' yang Siap Meledak Jadi Multibagger di 2026

MILYADER CUMI KERTAS: KISAH BRIAN ARMSTRONG DAN MUZZLELOAD PARA RAJA KRIPTO YANG TERSINGKIR

Meta Description: Brian Armstrong tersingkir dari jajaran 500 orang kaya dunia setelah kekayaannya ludes US$10 miliar. Di balik kehancuran ini, tersimpan ironi pahit: JPMorgan yang membantainya justru bullish. Analisis eksklusif selengkapnya.

Pendahuluan

Pernahkah Anda membayangkan memiliki perusahaan di puncak tertinggi, melihat namanya berkilau dalam indeks kekayaan Bloomberg, lalu dalam hitungan bulan, setengah dari kerajaan itu sirna ditelan bumi?

Brian Armstrong mengalaminya saat ini.

CEO Coinbase yang setahun lalu masih duduk manis di tahta orang terkaya dunia dengan harta US$17,7 miliar, kini harus merelakan namanya terhapus dari daftar 500 miliarder global . Bukan karena skandal, bukan karena penjara, dan bukan karena gaya hidup mewah. Ia tersingkir karena sesuatu yang lebih kejam dari hukum manusia: siklus pasar yang haus akan darah.

Kita sedang menyaksikan fenomena yang oleh sebagian ekonom disebut sebagai The Great Muzzloading of Crypto Royalty. Bukan sekadar koreksi harga biasa. Ini adalah pembantaian nilai kekayaan yang tercepat dalam sejarah finansial modern. Dalam kurun waktu hanya tujuh bulan, US$10 miliar lenyap dari rekening imajiner Armstrong .

Namun pertanyaannya, apakah ini benar-benar akhir? Ataukah ini adalah pembersihan sistematis terhadap para pendiri yang dianggap terlalu besar, terlalu kaya, dan terlalu mengancam sistem lama?

Yang paling mencengangkan bukanlah kejatuhannya, melainkan siapa yang mendorongnya. JPMorgan Chase & Co—ikon perbankan tradisional yang selama satu dekade dicaci maki oleh komunitas kripto—adalah aktor utama di balik pemangkasan valuasi Coinbase. Mereka memotong target harga saham hingga 27% hanya dalam satu hari .

Ironisnya, di waktu yang sama, bank yang sama juga merilis laporan setebal 30 halaman yang menyatakan bahwa mereka bullish terhadap kripto di tahun 2026 .

Selamat datang di era baru. Era di mana musuh tidak lagi berada di luar pagar, tetapi justru duduk di kantor mewah Manhattan yang sama yang selama ini ingin kita hancurkan. Era di mana lembaga keuangan tradisional tidak lagi membunuh kripto, melainkan memeliharanya seperti ternak—lalu menyembelihnya saat dagingnya cukup gemuk.

Artikel ini bukan sekadar laporan kejatuhan Brian Armstrong. Ini adalah investigasi narasi tentang bagaimana pasar kripto yang lahir sebagai gerakan desentralisasi justru kini ditentukan oleh segelintir analis di bank sentral. Ini tentang ironi pahit yang dihadapi Changpeng Zhao (CZ) yang kekayaannya ikut terperosok di tengah upayanya menjadi "baik" pasca penjara . Dan ini tentang pertanyaan paling tabu di industri ini: Apakah kita masih menjadi tuan atas rumah kita sendiri?


BAB I: KEKAYAAN YANG MENGUAP DALAM 210 HARI

Tepat pada 18 Juli 2025, Brian Armstrong mungkin sedang sarapan di San Francisco sambil melihat layar monitornya. Bitcoin berada di level tertinggi sepanjang masa mendekati US$126.000. Saham COIN mencetak rekor di US$444. Saham miliknya 14% di perusahaan yang ia dirikan bernilai US$17,7 miliar. Ia adalah raja.

Hari ini, 12 Februari 2026, ia hanya memiliki US$7,5 miliar .

Kehilangan US$10 miliar bukan sekadar angka statistik. Untuk memberi perspektif: jika Armstrong menghabiskan US$1 juta setiap hari sejak Yesus lahir hingga hari ini, ia masih belum kehabisan uang sebanyak yang ia hilangkan dalam setengah tahun terakhir.

Angka-angka ini memang membuat mata berkunang-kunang. Tapi yang lebih mencengangkan adalah betapa rapuhnya kekayaan itu. Sebagian besar kekayaannya terikat dalam satu keranjang bernama Coinbase. Dan Coinbase, terlepas dari segala diversifikasi yang dilakukan, masihlah cermin dari Bitcoin.

Data menunjukkan, saham Coinbase telah ambles 60% dari puncaknya, sementara Bitcoin sendiri ambruk 50% dari titik tertinggi Oktober 2025 . Korelasi ini bukan kebetulan. Ini adalah ketergantungan struktural.

Namun, apakah adil menyalahkan pasar?

Jawabannya rumit. Benar bahwa pasar sedang tidak bersahabat. Fear & Greed Index berada di level 12—kategori Extreme Fear yang sudah bertahan selama berbulan-bulan . Volume perdagangan spot menurun drastis. USDC kehilangan pangsa pasar. Ini semua fakta.

Tapi yang luput dari pemberitaan umum adalah bahwa pemangkasan valuasi oleh JPMorgan terjadi di saat yang sangat mencurigakan: tepat sebelum rilis laporan keuangan Q4 2025 .

Analis Ken Worthington memangkas target dari US$399 menjadi US$290. Alasan klasik: "Softness in crypto prices." Namun, dalam dokumen yang sama, ia masih memberi rating Overweight dan memproyeksikan potensi kenaikan 75% .

Pertanyaannya: Jika Anda benar-benar percaya harga akan naik 75%, mengapa Anda memangkas target saat ini?

Apakah ini sekadar kehati-hatian, atau ada agenda lain? Di pasar tradisional, aksi seperti ini sering disebut sebagai "pengaturan panggung"—menekan ekspektasi publik agar ketika angka riil keluar, valuasi bisa direvisi naik dengan efek kejutan.

Ini adalah permainan Wall Street yang sudah berusia seabad. Dan Brian Armstrong, pendiri perusahaan yang bercita-cita "membebaskan ekonomi dunia", sedang menjadi pion dalam permainan itu.


BAB II: IRONI JPMORGAN—MAKELAR, BUKAN TUKANG ROBOH

Jika Anda membaca laporan JPMorgan tanggal 11 Februari 2026, Anda akan menemukan skenario yang sangat kontradiktif. Pada hari yang sama mereka memangkas target Coinbase, divisi riset mereka yang lain menerbitkan proyeksi bullish untuk pasar kripto 2026 .

Mari kita bedah skizofrenia korporat ini.

Di satu sisi, analis JPMorgan mengatakan pasar sedang lemah, volume menurun, stablecoin stagnan. Di sisi lain, mereka mengatakan aliran institusional akan meningkat, kejelasan regulasi di AS pasca Clarity Act akan memicu reli, dan biaya produksi Bitcoin di US$77.000 akan menjadi fondasi keseimbangan baru .

Lalu, mana yang benar?

Keduanya benar. Dan ini bukan kontradiksi, ini adalah strategi.

JPMorgan tidak ingin menghancurkan Coinbase. Mereka ingin mengendalikannya. Dengan menekan valuasi, mereka membuka peluang akumulasi di harga rendah. Dengan memberikan narasi bullish jangka panjang, mereka menyiapkan eksodus psikologis: jual sekarang ke saya murah, nanti saya jual lagi ke Anda mahal.

Inilah yang disebut Muzzloading.

Istilah ini saya pinjam dari praktik peternak yang memasang moncong (muzzle) pada hewan ternak agar tidak makan berlebihan sebelum disembelih. Bukan untuk membunuhnya sekarang, tapi untuk menahan bobotnya agar tetap dalam kendali.

Para raja kripto saat ini sedang dimuzzload. Armstrong, CZ, Winklevoss, Novogratz, Saylor—mereka semua masih kaya, masih berpengaruh, tetapi mereka tidak lagi bebas. Kekayaan mereka kini ditentukan oleh lembaga yang dulu mereka anggap sebagai legacy system yang akan mati.

CZ adalah contoh paling tragis. Setelah dipenjara, membayar denda US$50 miliar, dan mengundurkan diri dari Binance, ia berusaha mati-matian untuk direhabilitasi. Ia bahkan mendapatkan pengampunan dari Donald Trump pada Oktober 2025 . Namun pasar tidak peduli pada pengampunan presiden. Kekayaan CZ dilaporkan turun US$1,39 miliar dalam sekejap .

Di sinilah ironi mencapai puncaknya. Dulu, para pendiri ini adalah pembangkang. Kini, mereka adalah pengemis di gerbang sistem yang sama. Mereka ingin diterima. Mereka ingin diakui. Namun setiap kali mereka merangkul, pasar justru menjambak rambut mereka.


BAB III: DIVERISIFIKASI—ANTARA KEBUTUHAN DAN PENGKHIANATAN

Coinbase bukanlah perusahaan yang diam. Di tengah badai, Brian Armstrong mencoba segala cara.

Mereka mengakuisisi Deribit, platform derivatif kripto, pada Agustus 2025. Mereka memperluas layanan ke trading saham dan ETF. Mereka memasang iklan di Super Bowl, meskipun hasil ratingnya mengecewakan .

Dari sisi fundamental, upaya diversifikasi Coinbase patut diacungi jempol. Pendapatan dari subscription and services kini mencapai US$747 juta per kuartal—hanya selisih tipis dari pendapatan transaksi yang sebesar US$1 miliar . Ini adalah struktur yang lebih sehat dibanding dua tahun lalu yang 80% bergantung pada biaya trading.

Tapi mengapa harga saham tetap ambrol?

Jawabannya sederhana: pasar tidak peduli pada kesehatan perusahaan; pasar peduli pada narasi.

Dan narasi tentang Coinbase saat ini adalah: mereka adalah korban siklus. Tidak peduli seberapa banyak Deribit berkontribusi, selama Bitcoin turun, COIN ikut turun.

Lebih ironis lagi, upaya diversifikasi ini justru membuat Coinbase kehilangan jati diri. Dulu, mereka adalah duta desentralisasi. Kini, mereka adalah platform perdagangan saham biasa yang kebetulan juga melayani kripto.

Apakah ini pengkhianatan terhadap cita-cita awal? Ataukah ini sekadar evolusi yang wajar dari perusahaan publik yang harus bertanggung jawab kepada pemegang saham?

Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban benar atau salah. Namun yang jelas, langkah Armstrong untuk "jinak" di mata regulator dan pelaku pasar tradisional tidak menyelamatkannya dari amukan pasar.


BAB IV: KRONIK KEHANCURAN PARA RAJA

Armstrong bukanlah satu-satunya korban. Mari kita hitung jumlah kepala mahkota yang berguguran dalam enam bulan terakhir:

Cameron dan Tyler Winklevoss. September lalu, mereka masih bercanda tentang Mars dan masa depan Gemini. Hari ini, kekayaan mereka runtuh dari US$8,2 miliar menjadi US$1,9 miliar . Lebih dari 76% lenyap. Mereka memecat 25% karyawan dan menutup operasi internasional. Gemini, yang dulu digadang sebagai pesaing serius Coinbase, kini sekarat.

Michael Novogratz. Jenderal veteran yang selamat dari berbagai perang kripto. Ia kehilangan US$4,1 miliar, atau sekitar 40% kekayaannya. Galaxy Digital mencatat kerugian kuartalan US$500 juta—angka yang bahkan membuat Novogratz yang biasanya optimis berkata, "Part of the ethos of this whole industry is pain" .

Michael Saylor. Penganut Bitcoin sejati. Ia memegang erat koinnya, tidak pernah menjual, dan mengajarkan dunia tentang HODL. Namun hukum fisika tetap berlaku. Kekayaannya menyusut dua pertiga dari puncak Juli 2025 menjadi US$3,4 miliar .

Changpeng Zhao. Seperti disebut sebelumnya, ia mengalami pukulan telak baik secara finansial maupun reputasi. Forbes memperkirakan kekayaannya US$78,8 miliar per Januari 2026 . Namun data Bloomberg menunjukkan penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Yang menarik, CZ pernah berkata ia tidak percaya angka kekayaannya di Forbes karena "terlalu tinggi" dan "tidak masalah" . Mungkin kini ia merasa prediksinya akurat.

Pertanyaan yang mengemuka: Apakah ini seleksi alam?

Mungkin. Namun jika ini seleksi alam, predatornya bukanlah pasar bebas. Predatornya adalah lembaga-lembaga yang memiliki kemampuan untuk mengubah sentimen dengan satu laporan riset.


BAB V: HONGKONG DAN API DI TENGAH HUJAN

Di tengah kabut merah darah di pasar AS, ada satu titik terang yang menarik perhatian: Hong Kong.

Bloomberg melaporkan bahwa meskipun kripto mengalami kehancuran US$2 triliun, optimisme di Hong Kong tidak padam .

Mengapa?

Jawabannya ada pada geopolitik. Hong Kong melihat kripto bukan sebagai aset spekulatif, melainkan sebagai alat lindung nilai terhadap dominasi dolar AS dan sistem keuangan barat. Ketika JPMorgan dan Goldman Sachs sibuk memangkas valuasi, regulator Hong Kong sibuk menyusun kerangka hukum untuk stablecoin dan lisensi bursa.

Ini adalah divergensi struktural yang sangat penting. Di Barat, kripto diperlakukan sebagai aset investasi. Di Timur, kripto diperlakukan sebagai infrastruktur.

Brian Armstrong dan Coinbase terjebak dalam paradigma pertama. Mereka bergantung pada Wall Street untuk valuasi, bergantung pada SEC untuk kepastian hukum, dan bergantung pada investor ritel AS untuk volume. Ini adalah posisi yang rapuh.

Sebaliknya, bursa-bursa yang berbasis di Asia dan Timur Tengah cenderung lebih stabil secara valuasi pendiri karena pasar mereka tidak sepenuhnya terkorelasi dengan indeks saham AS.


BAB VI: BUKAN PERTAMA, BUKAN TERAKHIR

Sebelum kita terlalu larut dalam narasi kehancuran, penting untuk mengingat sejarah.

Ini bukan pertama kalinya Brian Armstrong jatuh.

Pada 2022, saat crypto winter pertama pasca FTX, saham Coinbase juga anjlok dari puncak US$350 ke level US$30-an. Saat itu, banyak analis mengatakan Coinbase akan bangkrut. Armstrong disebut sebagai CEO yang gagal. Isu mosi tidak percaya merebak di internal perusahaan.

Namun ia bangkit. Bitcoin kemudian reli ke US$126.000. Coinbase mencetak laba. Armstrong menjadi miliarder lebih kaya dari sebelumnya .

Siklus ini persis sama dengan yang terjadi sekarang. Hanya aktornya yang berganti. Dulu musuhnya adalah Sam Bankman-Fried dan FTX yang curang. Kini musuhnya adalah JPMorgan yang terlalu kuat.

Apakah Armstrong akan bangkit lagi?

Jawabannya tergantung pada satu variabel: waktu.

Jika pasar pulih dalam 6-12 bulan, Coinbase akan bertahan dan Armstrong akan kembali ke jajaran 500 orang kaya. Namun jika musim dingin ini berlangsung lebih lama dari perkiraan—seperti yang diwanti-wanti oleh para ahli yang memprediksi Bitcoin bisa menyentuh US$40.000—maka US$7,5 miliar Armstrong bisa menyusut lebih jauh lagi .


BAB VII: PERTANYAAN TABU YANG TAK KUNJUNG TERJAWAB

Di penghujung analisis ini, saya ingin mengajukan pertanyaan yang paling tidak nyaman untuk komunitas kripto:

Apakah desentralisasi benar-benar ada jika nasib pendirinya ditentukan oleh bank sentral?

Kita boleh berbangga dengan teknologi blockchain. Kita boleh memuja kedaulatan individu. Namun realitasnya, ketika lembaran kekayaan Brian Armstrong menyusut 60% hanya karena JP Morgan menerbitkan laporan, kita sedang menyaksikan pembalikan kekuasaan yang ironis.

Dulu, bank-bank besar takut pada kripto. Sekarang, pendiri kripto takut pada analis bank.

Dulu, kripto adalah alternatif. Sekarang, kripto adalah subordinat.

CZ pernah berkata: "We need to respect the market, with a level of caution too. It goes up and down in cycles" . Pernyataan itu penuh kebijaksanaan. Namun apakah cukup hanya dengan "menghormati" pasar? Ketika pasar telah dibajak oleh aktor-aktor yang memiliki neraca triliunan dolar, rasa hormat tidak akan mengembalikan kekuasaan.

Armstrong, CZ, dan para pendiri lainnya harus menghadapi pertanyaan eksistensial: apakah mereka ingin tetap menjadi pion dalam papan catur Wall Street, atau akankah mereka menemukan cara untuk benar-benar memerdekakan industri ini dari kendali sistem lama?


KESIMPULAN: MUZZLELOAD ATAU PEMBEBASAN?

Brian Armstrong keluar dari daftar 500 orang kaya. Itu fakta, bukan opini.

Namun kekayaan yang hilang bisa kembali dalam sekejap jika Bitcoin kembali menyentuh US$100.000. Itu juga fakta.

Yang menjadi perdebatan adalah apakah siklus ini masih alami atau sudah dimanipulasi.

Data menunjukkan bahwa lembaga keuangan tradisional kini memiliki kendali yang belum pernah terjadi sebelumnya atas narasi dan valuasi aset kripto. Mereka tidak perlu membeli Bitcoin secara masif; cukup dengan menggerakkan target harga saham Coinbase, mereka bisa menggerakkan pasar secara tidak langsung.

Ini bukan konspirasi. Ini adalah kapitalisme dalam bentuknya yang paling murni: mereka yang memiliki modal menentukan harga.

Bagi investor ritel, ini adalah pelajaran pahit. Jangan pernah percaya bahwa kripto sepenuhnya terpisah dari sistem. Ekor ular mungkin berbeda, tetapi kepalanya tetap satu.

Bagi Brian Armstrong, ini adalah ujian kepemimpinan terbesar sejak krisis FTX. Akankah ia berhasil membawa Coinbase keluar dari badai ini? Atau akankah ia menjadi generasi pertama pendiri kripto yang pensiun bukan karena kaya raya, melainkan karena lelah berperang melawan sistem yang tidak bisa dikalahkan?

Yang jelas, satu hal pasti: pasar sedang menonton. Dan sejarah tidak akan mencatat kekayaan yang hilang, melainkan bagaimana para raja ini merespons ketika mahkota mereka terguncang.


Penulis adalah kontributor tetap dengan spesialisasi geopolitik aset digital. Data dalam artikel ini diverifikasi dari Bloomberg Billionaires Index, laporan JPMorgan Chase, dan publikasi resmi Coinbase per 12 Februari 2026.

Apakah menurut Anda Brian Armstrong akan kembali ke jajaran 500 orang kaya di tahun ini? Atau justru ini awal dari akhir dominasi pendiri generasi pertama kripto? Diskusikan di kolom komentar.

 


baca juga: 

1. Start Strong: 5 Saham 'Undervalued' Pilihan Q1 2026 yang Berpotensi Multibagger

2. Berburu Multibagger 2026: Sektor Saham yang Layak Masuk Watchlist

3. rangkuman saham blue chip Indonesia

Investasi cerdas adalah kunci menuju masa depan berkualitas dengan menggabungkan pertumbuhan, perlindungan, dan keuntungan


Strategi ini mencerminkan tren investasi modern yang aman dan berkelanjutan, Dengan pendekatan futuristik, investasi menjadi solusi tepat untuk membangun stabilitas finansial jangka panjang


Bitcoin adalah Aset Digital atau Agama Baru Membongkar 7 Mitos Paling Berbahaya Tentang Cryptocurrency Pertama Dunia

baca juga: Bitcoin: Aset Digital? Membongkar 7 Mitos Paling Berbahaya Tentang Cryptocurrency Pertama Dunia

Tips Psikologis untuk Menabung Crypto.

baca juga: Cara memahami aspek psikologis dalam investasi kripto dan bagaimana membangun strategi yang kuat untuk menabung dalam jangka panjang

Cara mulai investasi dengan modal kecil untuk pemula di tahun 2024, tips aman bagi pemula, dan platform online terbaik untuk investasi, ciri ciri saham untuk investasi terbaik bagi pemula

baca juga: Cara mulai investasi dengan modal kecil untuk pemula di tahun 2024, tips aman bagi pemula, dan platform online terbaik untuk investasi, ciri ciri saham untuk investasi terbaik bagi pemula

Regulasi Cryptocurrency di Indonesia: Hal yang Wajib Diketahui Investor

baca juga: Regulasi Cryptocurrency di Indonesia: Hal yang Wajib Diketahui Investor

0 Komentar