Ketika Geopolitik Mengguncang Pasar: Memahami Jatuhnya Bitcoin di Tengah Konflik Iran-Israel

Investasi cerdas adalah kunci menuju masa depan berkualitas dengan menggabungkan pertumbuhan, perlindungan, dan keuntungan

baca juga: Bukan Sekadar Aman: 5 Saham Blue Chip 'Tidur' yang Siap Meledak Jadi Multibagger di 2026

Ketika Geopolitik Mengguncang Pasar: Memahami Jatuhnya Bitcoin di Tengah Konflik Iran-Israel

Oleh: Tim Analis Pasar

Hari Sabtu (28/02) yang biasanya identik dengan suasana santai dan liburan, tiba-tiba diwarnai dengan guncangan besar. Dunia dikejutkan oleh konfirmasi bahwa Israel telah melancarkan serangan militer ke wilayah ibu kota Iran, Tehran. Kabar ini, yang pertama kali dilansir oleh media internasional, dengan cepat menyebar layaknya api. Namun, yang paling menarik perhatian para pelaku pasar keuangan global bukan hanya dampak politiknya, tetapi juga efek ripple-nya yang langsung terasa di dunia investasi modern: harga Bitcoin (BTC) ambruk ke level US$63 ribu.

Fenomena ini menjadi pengingat yang sangat kuat bahwa di era globalisasi, tidak ada aset yang benar-benar steril dari gejolak dunia nyata. Bagi investor pemula yang mungkin baru saja mulai belajar tentang Bitcoin atau saham, pertanyaan besarnya adalah: Mengapa perang di Timur Tengah bisa membuat harga uang digital di internet jatuh? Artikel ini akan mengupas tuntas hubungan rumit antara geopolitik dan pasar, dengan fokus pada insiden terbaru ini, serta memberikan pelajaran berharga bagi para pemula.

Kronologi Singkat: Dari Rudal ke Grafik Merah

Untuk memahami dampaknya, mari kita lihat kronologi sederhananya:

  1. Sabtu (28/02) Pagi: Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengkonfirmasi serangan militer ke Tehran. Pernyataan ini disertai dengan seruan keadaan darurat di Israel untuk mengantisipasi kemungkinan serangan balasan dari Iran.

  2. Latar Belakang Konflik: Ketegangan ini bukanlah peristiwa yang tiba-tiba muncul dari ruang hampa. Ini adalah eskalasi dari negosiasi yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terkait program nuklir Iran. Perundingan tersebut sebenarnya dijadwalkan berlanjut pekan depan, namun ironisnya, ketegangan justru memuncak di akhir pekan.

  3. Reaksi Pasar: Begitu kabar serangan menyebar, pasar kripto yang tidak pernah tidur langsung bereaksi. Bitcoin, yang sehari sebelumnya dengan nyaman bertahan di level US$67 ribu, mengalami penurunan tajam hingga menyentuh US$63 ribu. Jutaan dolar lenyap dalam hitungan menit dari total kapitalisasi pasar kripto.

Bagi mata yang awam, penurunan sekitar 6% ini mungkin terlihat kecil. Namun dalam dunia investasi, pergerakan secepat itu dalam hitungan jam adalah sebuah flash crash yang menakutkan.

Mengapa Bitcoin Bisa Terkena Dampak Perang?

Ini adalah pertanyaan kunci. Bukankah Bitcoin diciptakan sebagai sistem keuangan alternatif yang terdesentralisasi, bebas dari campur tangan pemerintah dan bank sentral? Bukankah ia disebut-sebut sebagai "emas digital" yang seharusnya menjadi tempat berlindung yang aman (safe haven) saat krisis?

Jawabannya tidak sesederhana itu. Ada beberapa alasan mengapa Bitcoin, dan aset berisiko lainnya seperti saham, bisa terpukul oleh peristiwa geopolitik:

1. Psikologi Pasar: Risk-On vs. Risk-Off

Konsep paling mendasar dalam investasi adalah perilaku investor saat menghadapi ketidakpastian. Dalam situasi normal, investor cenderung risk-on, yaitu berani mengambil risiko dengan membeli aset-aset yang berpotensi memberikan imbal hasil tinggi seperti saham teknologi atau mata uang kripto.

Namun, ketika terjadi krisis (seperti perang), sentimen berubah drastis menjadi risk-off. Ketakutan akan hal yang tidak diketahui (unknown) dan potensi kerugian yang lebih besar membuat investor berbondong-bondong keluar dari aset berisiko. Mereka kemudian memindahkan uangnya ke aset yang dianggap lebih aman dan likuid. Contoh klasik aset safe haven adalah dolar AS (USD) dan emas fisik.

Bitcoin, meskipun usianya sudah lebih dari satu dekade, masih dianggap oleh banyak investor institusional besar sebagai aset berisiko tinggi karena volatilitasnya yang ekstrem. Akibatnya, saat perang pecah, Bitcoin ikut terseret dalam aksi jual besar-besaran (sell-off).

2. Likuiditas dan Margin Call

Pasar kripto terkenal dengan penggunaan leverage atau utang yang tinggi. Banyak trader meminjam uang untuk membeli Bitcoin dengan harapan harganya naik. Ketika harga tiba-tiba ambruk, broker atau bursa tempat mereka bertransaksi akan memaksa mereka untuk menambah agunan atau menjual asetnya secara paksa (margin call). Proses ini menciptakan efek bola salju: penurunan harga memicu margin call, yang kemudian menyebabkan lebih banyak aksi jual, dan harga pun jatuh semakin dalam.

3. Korelasi dengan Pasar Saham AS

Dalam beberapa tahun terakhir, terutama pasca-pandemi, Bitcoin menunjukkan korelasi yang semakin kuat dengan indeks saham teknologi AS, seperti Nasdaq. Hal ini terjadi karena banyak investor institusional besar yang mulai masuk ke Bitcoin. Mereka memperlakukan Bitcoin sebagai bagian dari portofolio aset berisiko mereka. Jadi, ketika berita buruk menyebabkan indeks saham AS melemah (meskipun pasar saham tutup di akhir pekan, kekhawatiran sudah muncul), harga Bitcoin ikut terpukul.

4. Ketidakpastian Masa Depan

Perang menciptakan ketidakpastian. Investor tidak tahu bagaimana eskalasi selanjutnya, apakah akan melibatkan negara lain, bagaimana dampaknya terhadap pasokan minyak dunia, dan bagaimana respons ekonomi global. Dalam suasana penuh teka-teki ini, tindakan paling rasional bagi banyak orang adalah "wait and see" sambil memegang uang tunai. Ini memicu aksi jual di berbagai lini aset, termasuk kripto.

Pelajaran bagi Investor Saham dan Kripto Pemula

Peristiwa seperti ini, meskipun menakutkan, adalah "guru" terbaik bagi investor pemula. Berikut adalah beberapa pelajaran berharga yang bisa dipetik:

1. Pahami Bahwa Semua Aset Bisa Terkait

Jangan pernah berpikir bahwa portofolio Anda terisolasi dari dunia luar. Perang di Timur Tengah dapat mempengaruhi harga minyak, yang dapat mempengaruhi inflasi, yang dapat mempengaruhi kebijakan bank sentral AS (The Fed), yang pada akhirnya mempengaruhi harga saham dan Bitcoin. Memahami keterkaitan global ini adalah kunci untuk tidak panik saat pasar bergerak.

2. Jangan Panik Jual (Fear, Uncertainty, and Doubt - FUD)

Pasar sering bergerak berdasarkan emosi, terutama ketakutan (Fear), ketidakpastian (Uncertainty), dan keraguan (Doubt) atau yang biasa disingkat FUD. Berita buruk sering kali memicu reaksi berlebihan di awal. Investor pemula sering kali tergoda untuk menjual asetnya saat harga jatuh karena takut rugi lebih besar. Padahal, keputusan investasi terbaik sering kali diambil dengan kepala dingin.

Tanyakan pada diri sendiri: Apakah fundamental Bitcoin berubah? Apakah teknologinya tiba-tiba rusak karena perang? Jawabannya tentu tidak. Yang berubah adalah sentimen pasar. Jika Anda percaya pada prospek jangka panjang suatu aset, penurunan seperti ini bisa jadi adalah "obral besar-besaran" (buy the dip), meskipun strategi ini tetap harus dilakukan dengan hati-hati.

3. Diversifikasi Itu Penting

Pepatah lama "Jangan taruh semua telur dalam satu keranjang" sangat relevan di sini. Jika semua uang Anda hanya ada di Bitcoin, penurunan 6-10% dalam sehari akan terasa sangat menyakitkan. Namun, jika portofolio Anda terdiri dari campuran antara saham defensif (misalnya saham perusahaan barang konsumsi yang tetap laku meski perang), emas, atau bahkan obligasi, dampak dari jatuhnya Bitcoin bisa dinetralisir.

4. Perhatikan Kalender Geopolitik dan Ekonomi

Investor tidak cukup hanya membaca grafik harga (chart). Mereka juga harus menjadi pembaca berita yang baik. Perkembangan negosiasi nuklir Iran-AS, ketegangan di Laut Merah, atau pemilu di negara besar adalah peristiwa yang dapat mempengaruhi pasar. Memasukkan "risk management" berdasarkan berita-berita ini adalah bagian dari kedewasaan berinvestasi.

5. Ukuran Posisi dan Manajemen Risiko

Jangan pernah menggunakan uang pinjaman atau uang kebutuhan sehari-hari untuk berinvestasi di aset berisiko seperti kripto. Tentukan berapa banyak alokasi aset yang Anda siapkan untuk kategori "berisiko tinggi". Dengan manajemen risiko yang baik, fluktuasi harga sekecil apa pun tidak akan membuat Anda gelisah atau sulit tidur.

Konteks yang Lebih Luas: Minyak, Inflasi, dan Ekonomi Global

Dampak serangan Israel ke Iran tidak berhenti di Bitcoin. Ada konsekuensi ekonomi yang lebih besar yang perlu dicermati, terutama oleh investor saham.

Iran adalah salah satu produsen minyak terbesar di dunia. Ketegangan di wilayah tersebut selalu memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak. Akibatnya, harga minyak mentah dunia berpotensi melonjak. Kenaikan harga minyak adalah "pajak" bagi konsumen dan industri di seluruh dunia. Harga bensin naik, biaya transportasi dan logistik naik, yang pada akhirnya mendorong inflasi lebih tinggi.

Bagi pasar saham, inflasi yang tinggi adalah momok. Bank sentral seperti The Fed akan merespons inflasi dengan menaikkan suku bunga. Suku bunga tinggi membuat biaya pinjaman perusahaan membengkak dan membuat obligasi pemerintah menjadi lebih menarik dibandingkan saham berisiko. Akibatnya, valuasi saham, terutama saham teknologi yang mengandalkan pertumbuhan masa depan, akan tertekan.

Jadi, rantai logikanya bisa dilihat sebagai berikut:
Perang Iran-Israel -> Kekhawatiran Pasokan Minyak -> Harga Minyak Naik -> Inflasi Meningkat -> Suku Bunga Berpotensi Naik -> Valuasi Saham dan Kripto Tertekan.

Antara Spekulasi dan Fundamental Jangka Panjang

Peristiwa Sabtu pagi ini membawa kita kembali pada perdebatan lama: Apakah Bitcoin adalah lindung nilai inflasi (seperti emas) atau aset spekulatif berisiko tinggi?

Dalam jangka pendek, perilaku Bitcoin saat krisis ini lebih mirip aset spekulatif. Ia turun karena investor panik dan butuh uang tunai.

Namun, dalam jangka panjang, para pendukung gigih Bitcoin akan berargumen bahwa justru sistem keuangan tradisional dan mata uang fiat yang terancam oleh perang. Perang sering kali menyebabkan negara mencetak uang sebanyak-banyaknya untuk membiayai mesin perangnya, yang pada akhirnya memicu hiperinflasi dan menghancurkan nilai mata uang. Dalam skenario seperti itu, Bitcoin dengan pasokannya yang terbatas (hanya 21 juta koin) bisa menjadi penyelamat.

Kita mungkin tidak akan melihat skenario itu dalam konflik kali ini. Namun, ini adalah narasi jangka panjang yang membuat banyak investor tetap percaya diri memegang Bitcoin meskipun harganya naik turun.

Kesimpulan: Tetap Tenang dan Terus Belajar

Bagi masyarakat umum, berita "Israel Serang Iran, Bitcoin Ambruk" mungkin hanya judul sensasional yang lewat begitu saja. Namun bagi investor pemula, ini adalah studi kasus yang sempurna.

Pasar keuangan, baik saham maupun kripto, adalah cerminan dari psikologi kolektif jutaan manusia di seluruh dunia. Mereka bergerak oleh berita, oleh harapan, dan oleh ketakutan. Peristiwa geopolitik seperti serangan ke Tehran adalah pengingat bahwa hidup ini penuh ketidakpastian, dan investasi adalah tentang bagaimana kita mengelola ketidakpastian tersebut, bukan menghindarinya.

Langkah terbaik yang bisa dilakukan investor pemula sekarang adalah:

  1. Jangan bereaksi gegabah. Jual atau beli berdasarkan analisis, bukan emosi sesaat.

  2. Perbanyak literasi. Pahami mengapa peristiwa A bisa mempengaruhi aset B.

  3. Fokus pada jangka panjang. Jika fundamental aset yang Anda pegang baik, koreksi harga adalah bagian normal dari siklus pasar.

  4. Pantau perkembangan. Perundingan nuklir Iran-AS pekan depan akan menjadi kunci apakah ketegangan mereda atau justru meningkat. Hasilnya bisa menentukan arah pasar selanjutnya.

Perang memang menghancurkan, tetapi dari sudut pandang pasar, ia mengajarkan kita pelajaran berharga tentang konektivitas global, manajemen risiko, dan yang terpenting, tentang pengendalian diri. Selamat berinvestasi dan teruslah belajar.

 


baca juga: 

1. Start Strong: 5 Saham 'Undervalued' Pilihan Q1 2026 yang Berpotensi Multibagger

2. Berburu Multibagger 2026: Sektor Saham yang Layak Masuk Watchlist

3. rangkuman saham blue chip Indonesia

Investasi cerdas adalah kunci menuju masa depan berkualitas dengan menggabungkan pertumbuhan, perlindungan, dan keuntungan


Strategi ini mencerminkan tren investasi modern yang aman dan berkelanjutan, Dengan pendekatan futuristik, investasi menjadi solusi tepat untuk membangun stabilitas finansial jangka panjang


Bitcoin adalah Aset Digital atau Agama Baru Membongkar 7 Mitos Paling Berbahaya Tentang Cryptocurrency Pertama Dunia

baca juga: Bitcoin: Aset Digital? Membongkar 7 Mitos Paling Berbahaya Tentang Cryptocurrency Pertama Dunia

Tips Psikologis untuk Menabung Crypto.

baca juga: Cara memahami aspek psikologis dalam investasi kripto dan bagaimana membangun strategi yang kuat untuk menabung dalam jangka panjang

Cara mulai investasi dengan modal kecil untuk pemula di tahun 2024, tips aman bagi pemula, dan platform online terbaik untuk investasi, ciri ciri saham untuk investasi terbaik bagi pemula

baca juga: Cara mulai investasi dengan modal kecil untuk pemula di tahun 2024, tips aman bagi pemula, dan platform online terbaik untuk investasi, ciri ciri saham untuk investasi terbaik bagi pemula

Regulasi Cryptocurrency di Indonesia: Hal yang Wajib Diketahui Investor

baca juga: Regulasi Cryptocurrency di Indonesia: Hal yang Wajib Diketahui Investor

0 Komentar