Research Update #001 — Pasar Kerja Indonesia 2026: Pengangguran Turun, tetapi Tantangan Bergeser ke Kualitas Pekerjaan, Produktivitas dan AI
Indonesia Employment & Labor Monitor — Research Update #001
Research Program: Indonesia Employment & Labor Monitor
Level: LEVEL 2 — Research Update
Update: #001
Observation Period: Februari–Agustus 2026
Status: Published Research Update
ArrezaMP Research — Research & Evidence Intelligence
← Back to ArrezaMP Research Hub
Research Update Overview
Pasar kerja Indonesia memasuki 2026 dengan sejumlah indikator agregat yang bergerak positif.
Berdasarkan Sakernas Februari 2026, jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai:
154,91 juta orang
Jumlah penduduk bekerja mencapai:
147,67 juta orang
atau bertambah sekitar 1,896 juta orang dibanding Februari 2025.
Pada saat yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka atau TPT turun menjadi:
4,68%
Sementara rata-rata upah buruh nasional pada Februari 2026 tercatat:
Rp3,29 juta per bulan
Secara agregat, angka tersebut menunjukkan bahwa pasar kerja Indonesia masih mampu menyerap tambahan tenaga kerja.
Namun angka pengangguran dan jumlah orang bekerja hanya menjelaskan sebagian kondisi pasar kerja.
Research Update ini mengangkat satu pertanyaan yang lebih luas:
Apakah bertambahnya pekerjaan juga diikuti peningkatan kualitas pekerjaan, pendapatan, produktivitas, perlindungan, keterampilan, dan kemampuan tenaga kerja beradaptasi terhadap perubahan teknologi?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika artificial intelligence mulai masuk ke dalam agenda pengembangan kompetensi tenaga kerja.
Signal awal yang muncul adalah:
Tantangan ketenagakerjaan Indonesia secara bertahap bergeser dari sekadar menciptakan lebih banyak pekerjaan menuju bagaimana menciptakan pekerjaan yang lebih produktif, berkualitas, adaptif, dan resilient terhadap perubahan teknologi.
1. What Changed?
Pada Februari 2026, jumlah penduduk bekerja Indonesia mencapai:
147,67 juta orang
Jumlah tersebut bertambah sekitar:
1,896 juta orang
dibandingkan Februari 2025.
TPT pada periode yang sama berada pada:
4,68%
atau turun sekitar 0,08 poin persentase dibanding Februari 2025.
Pergerakan ini merupakan signal positif.
Namun indikator ketenagakerjaan tidak cukup dibaca hanya melalui:
Employment
dan:
Unemployment
Karena seseorang dapat dikategorikan bekerja tetapi masih menghadapi:
jam kerja yang terbatas;
produktivitas rendah;
pendapatan rendah;
perlindungan sosial terbatas;
ketidakcocokan keterampilan;
atau kesempatan mobilitas karier yang rendah.
Karena itu Research Update ini menggunakan prinsip:
Employment Growth ≠ Job Quality Growth
2. Key Evidence
Employment
Pada Februari 2026:
147,67 juta orang bekerja
bertambah sekitar 1,896 juta orang dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Unemployment
Tingkat Pengangguran Terbuka:
4,68%
turun sekitar 0,08 poin persentase year-on-year.
Labour Force
Jumlah angkatan kerja:
154,91 juta orang
Angka tersebut menunjukkan skala pasar tenaga kerja Indonesia yang sangat besar.
Average Wage
Rata-rata upah buruh:
Rp3,29 juta per bulan
Angka ini merupakan rata-rata upah buruh/karyawan/pegawai dan tidak boleh ditafsirkan sebagai rata-rata pendapatan seluruh pekerja Indonesia.
Employment by Sector
Lapangan usaha dengan jumlah pekerja terbesar masih:
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
dengan sekitar:
42,49 juta pekerja
atau sekitar:
28,78% dari seluruh penduduk bekerja
Struktur ini memberikan konteks penting terhadap diskusi produktivitas dan transformasi pekerjaan Indonesia.
3. Full-Time Employment Memberikan Signal Positif
Pada Februari 2026, struktur jam kerja menunjukkan:
Pekerja penuh: 66,77%
Pekerja paruh waktu: 25,97%
Setengah pengangguran: 7,27%
Proporsi pekerja penuh meningkat dibanding Februari 2025 yang berada pada sekitar 66,19%.
Signal ini positif.
Namun jam kerja hanya satu dimensi kualitas pekerjaan.
Analisis yang lebih lengkap memerlukan kombinasi:
Hours
↓
Income
↓
Security
↓
Skills
↓
Productivity
↓
Career Mobility
Dengan kata lain:
Seseorang bekerja penuh waktu belum otomatis berarti pekerjaannya memiliki produktivitas, pendapatan, perlindungan, dan prospek karier yang tinggi.
4. Research Signal #1 — Job Quality Is Becoming the Bigger Question
TPT menjawab pertanyaan:
Berapa banyak orang yang tidak bekerja tetapi aktif mencari pekerjaan?
Tetapi tidak sepenuhnya menjawab:
Seberapa baik pekerjaan yang tersedia?
Bappenas dalam kajian outlook ketenagakerjaan 2026–2029 mengangkat persoalan seperti:
informalitas;
pekerjaan tidak penuh waktu;
produktivitas;
penciptaan pekerjaan formal;
dan kualitas pekerjaan.
Karena itu pertanyaan kebijakan mulai bergerak dari:
How many jobs?
menuju:
What kind of jobs?
Ini merupakan perubahan penting.
Penciptaan pekerjaan tetap harus menjadi prioritas.
Tetapi tahap berikutnya adalah memastikan bahwa pertumbuhan pekerjaan semakin berhubungan dengan:
higher income + productivity + security + skills + mobility
5. Research Signal #2 — Informality Remains a Structural Challenge
Struktur formal dan informal merupakan salah satu indikator penting pasar kerja.
Renstra Kementerian Ketenagakerjaan 2025–2029 menggunakan baseline Agustus 2024 yang menunjukkan sekitar:
42,05% pekerja formal
dan:
57,95% pekerja informal
Angka tersebut bukan data Februari 2026.
Karena itu Research Update ini tidak menggunakan angka tersebut untuk menyatakan komposisi pasar kerja saat ini.
Namun baseline tersebut memberikan konteks struktural:
Indonesia memasuki periode 2026 dengan basis pekerjaan informal yang masih besar.
Pekerjaan informal sendiri tidak otomatis berarti pekerjaan buruk.
Namun informalitas dapat berkaitan dengan tantangan seperti:
akses jaminan sosial;
perlindungan ketenagakerjaan;
kestabilan pendapatan;
akses pelatihan;
akses pembiayaan;
dan career progression.
Karena itu perkembangan formal vs informal employment akan menjadi indikator penting dalam Research Update selanjutnya.
6. Research Signal #3 — Productivity Is the Next Major Challenge
Pekerjaan tidak hanya perlu tersedia.
Pekerjaan juga perlu menghasilkan nilai ekonomi yang semakin tinggi.
Renstra Kemnaker 2025–2029 mengidentifikasi produktivitas dan daya saing tenaga kerja sebagai salah satu tantangan ketenagakerjaan.
Faktor yang berkaitan antara lain:
struktur pendidikan;
keterampilan;
kualitas pelatihan;
teknologi;
struktur lapangan usaha;
dan dominasi sebagian pekerjaan bernilai tambah relatif rendah.
Karena itu:
More Workers ≠ Higher Productivity
dan:
Higher Employment ≠ Higher Income Automatically
Sebuah ekonomi dapat menyerap banyak pekerja tetapi mengalami pertumbuhan produktivitas yang terbatas.
Sebaliknya, peningkatan keterampilan dan penggunaan teknologi dapat membantu pekerja menghasilkan output bernilai lebih tinggi.
7. Wage Is an Important Evidence Layer
Rata-rata upah buruh Indonesia pada Februari 2026 tercatat:
Rp3,29 juta per bulan
Angka ini merupakan benchmark penting.
Tetapi perlu dibedakan antara:
Employment
↓
Wage
↓
Income
↓
Purchasing Power
↓
Living Standard
Kenaikan jumlah pekerjaan tidak otomatis menjelaskan apakah pendapatan riil pekerja meningkat.
Untuk Research Update selanjutnya, perkembangan upah perlu dibaca bersama:
inflasi;
sektor pekerjaan;
tingkat pendidikan;
jenis pekerjaan;
wilayah;
status formal/informal;
dan produktivitas.
Ini memungkinkan penelitian bergerak dari sekadar:
how many people work
menuju:
how much economic value workers receive and generate
8. AI Mulai Masuk ke Sistem Kompetensi Tenaga Kerja Indonesia
Perubahan teknologi menambahkan dimensi baru terhadap pasar kerja.
Pada April 2026, Kementerian Ketenagakerjaan menetapkan:
Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia atau SKKNI bidang Artificial Intelligence, subbidang Knowledge Based System.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa AI mulai diterjemahkan ke dalam kerangka kompetensi tenaga kerja secara formal.
Pada Mei 2026, Kemnaker juga mengumumkan kolaborasi pengembangan SDM yang mencakup:
keterampilan digital;
artificial intelligence;
kewirausahaan;
pembelajaran berbasis proyek;
serta Talent and Innovation Hub.
Signalnya adalah:
AI is becoming a labour-market issue, not only a technology issue.
AI tidak hanya berkaitan dengan perusahaan teknologi.
AI mulai berkaitan dengan:
skills
training
productivity
job design
dan:
future workforce readiness
9. Research Signal #4 — AI Exposure Is Not the Same as Job Destruction
Pertanyaan:
“Apakah AI akan menghilangkan pekerjaan?”
perlu dijawab dengan hati-hati.
Kajian ILO mengenai Generative AI dan pasar kerja ASEAN pada Juli 2026 menunjukkan bahwa sejumlah occupation memiliki exposure terhadap GenAI.
Namun evidence yang tersedia belum menunjukkan:
widespread labour-market disruption
akibat GenAI.
Sebagian occupation dengan exposure tinggi bahkan masih menunjukkan pertumbuhan pekerjaan.
Tetapi terdapat signal awal yang perlu dipantau, khususnya terkait sebagian pekerja muda dan pekerjaan entry-level.
Karena itu:
AI Exposure ≠ Job Elimination
Exposure berarti sebagian aktivitas atau task dalam suatu pekerjaan berpotensi dipengaruhi AI.
Outcome akhirnya dapat berupa:
automation;
augmentation;
productivity improvement;
job redesign;
reskilling;
new occupation;
atau pada kondisi tertentu displacement.
10. Dari Job Replacement ke Task Transformation
Satu occupation terdiri dari banyak jenis tugas.
Misalnya:
routine tasks
analytical tasks
communication
judgment
creativity
physical tasks
AI mungkin mampu mengotomatisasi sebagian tugas.
AI mungkin membantu pekerja melakukan sebagian tugas lebih cepat.
AI juga mungkin hampir tidak relevan terhadap tugas tertentu.
Karena itu framework yang lebih berguna adalah:
Occupation → Tasks → AI Exposure → Skill Change → Productivity → Job Outcome
Bukan hanya:
Job → Replaced / Not Replaced
Perubahan ini penting karena masa depan pekerjaan tidak selalu berbentuk hilangnya occupation.
Sering kali occupation tetap ada tetapi komposisi task-nya berubah.
11. Research Signal #5 — Skill Landscape Is Changing
Kajian ILO mengenai perubahan keterampilan di era AI menunjukkan semakin pentingnya kombinasi berbagai kemampuan.
Tidak cukup hanya:
digital skills
Tetapi juga:
cognitive skills
socioemotional skills
AI skills
adaptability
resilience
dan:
human agency
Artinya future workforce semakin membutuhkan kemampuan:
Learn → Adapt → Analyze → Collaborate → Use Technology → Exercise Judgment
Perubahan teknologi membuat kemampuan belajar menjadi semakin penting karena tools dan workflow dapat berubah jauh lebih cepat daripada sebelumnya.
12. Entry-Level Employment Perlu Dipantau
Salah satu area yang perlu diperhatikan adalah pekerjaan entry-level.
Banyak pekerja baru secara tradisional belajar melalui:
routine tasks → experience → judgment → higher responsibility
Jika sebagian pekerjaan rutin semakin mudah diotomatisasi, jalur tersebut dapat berubah.
ILO menemukan beberapa signal awal mengenai outcome yang lebih lemah bagi pekerja muda dalam sebagian pekerjaan entry-level dengan exposure tinggi terhadap GenAI.
Namun evidence tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa:
AI menyebabkan hilangnya pekerjaan generasi muda secara luas.
Pertanyaan penelitian yang lebih tepat adalah:
Apakah jalur education → entry-level work → experience → professional career mulai berubah?
Ini menjadi salah satu monitoring question Indonesia Employment & Labor Monitor.
13. Digital Labour Market Infrastructure Juga Berkembang
Transformasi pasar kerja tidak hanya terjadi pada pekerja.
Infrastruktur pasar kerja juga semakin digital.
Pusat Pasar Kerja Kemnaker melalui Pasker ID mengembangkan informasi mengenai:
lowongan;
pencari kerja;
kebutuhan tenaga kerja;
pendidikan;
struktur occupation;
dan Labour Market Intelligence.
Hal tersebut membuka peluang bagi pasar kerja yang semakin:
data-driven
Data lowongan dapat memberikan signal mengenai demand.
Data pencari kerja memberikan signal mengenai supply.
Data kompetensi membantu melihat skill availability.
Jika evidence tersebut dapat dihubungkan secara lebih baik, labour-market policy dapat menjadi lebih responsif.
14. Dari Employment Monitoring ke Labour Market Intelligence
Indonesia memiliki banyak sumber data ketenagakerjaan.
Tantangan berikutnya bukan hanya menghasilkan lebih banyak data.
Tantangannya adalah menghubungkan evidence tersebut.
Kerangka sederhananya:
Labour Supply
↓
Job Vacancies
↓
Skills Demand
↓
Skills Supply
↓
Skills Gap
↓
Training
↓
Job Matching
↓
Employment Outcome
↓
Wage & Productivity
Dengan pendekatan tersebut, analisis pasar kerja dapat bergerak dari:
reporting what happened
menuju:
understanding what the labour market needs
15. ArrezaMP Employment Quality Framework
Indonesia Employment & Labor Monitor akan menggunakan framework:
JOBS
↓
QUALITY
↓
INCOME
↓
SKILLS
↓
PRODUCTIVITY
↓
ADAPTABILITY
↓
RESILIENCE
Kerangka tersebut membantu membedakan:
job creation
dari:
sustainable employment improvement
16. What We Cannot Conclude Yet
Research Update ini tidak menyimpulkan bahwa:
kualitas seluruh pekerjaan Indonesia telah meningkat;
turunnya TPT berarti seluruh persoalan ketenagakerjaan telah terselesaikan;
seluruh pekerjaan informal merupakan pekerjaan berkualitas rendah;
rata-rata upah buruh Rp3,29 juta mewakili pendapatan seluruh pekerja;
AI telah menyebabkan pengangguran massal;
AI akan menggantikan seluruh pekerjaan;
peningkatan skill otomatis meningkatkan upah;
atau penggunaan AI otomatis meningkatkan produktivitas.
Evidence yang tersedia menunjukkan perkembangan indikator ketenagakerjaan dan munculnya signal perubahan teknologi.
Hubungan sebab-akibat memerlukan analisis lebih dalam dan evidence tambahan.
17. Initial Research Finding
Berdasarkan evidence yang tersedia sampai Agustus 2026, Research Update #001 menghasilkan initial finding:
Pasar kerja Indonesia masih mampu menambah jumlah pekerja dan TPT terus menurun. Namun tantangan strategis berikutnya semakin bergeser dari sekadar employment quantity menuju job quality, wage, productivity, skills, formalization, dan worker resilience.
Signal kedua adalah:
AI mulai masuk ke dalam sistem kompetensi tenaga kerja Indonesia, tetapi evidence yang tersedia belum menunjukkan mass labour displacement. Perubahan yang lebih relevan untuk dipantau saat ini adalah bagaimana AI mengubah task, kebutuhan skill, produktivitas, dan jalur masuk pekerja muda ke pasar kerja.
Finding Status:
INITIAL — REQUIRES CONTINUED OBSERVATION
18. What We Will Monitor Next
Employment Growth
Berapa banyak pekerjaan baru yang tercipta?
Unemployment Rate
Apakah TPT terus menurun?
Formal vs Informal Employment
Apakah proporsi pekerjaan formal meningkat?
Full-Time vs Underemployment
Apakah kualitas penggunaan tenaga kerja membaik?
Wage Growth
Apakah pendapatan pekerja meningkat secara riil?
Productivity
Apakah output per pekerja meningkat?
Job Vacancies
Sektor dan occupation apa yang meningkatkan permintaan tenaga kerja?
Skills Demand
Skill apa yang semakin banyak dibutuhkan?
AI Exposure
Occupation dan task mana yang paling berubah akibat AI?
Entry-Level Employment
Apakah jalur masuk pekerja muda mengalami perubahan?
Reskilling & Upskilling
Apakah sistem pelatihan mengikuti kebutuhan industri?
Social Protection
Apakah pekerja informal dan model pekerjaan baru mendapatkan perlindungan yang semakin baik?
19. Research Update Status
Research Program: Indonesia Employment & Labor Monitor
LEVEL 1 — Research Foundation
● Published
LEVEL 2 — Research Updates
● Active — Research Update #001
LEVEL 3 — Insights & Case Studies
○ Preparing
Research Update ini merupakan bagian dari living research.
Temuan dapat diperbarui apabila tersedia:
data Sakernas baru;
revisi statistik;
evidence baru mengenai upah;
perubahan struktur formal/informal;
labour-market intelligence baru;
perkembangan kebijakan;
atau evidence baru mengenai dampak AI terhadap pekerjaan.
20. Limitations
Research Update #001 memiliki sejumlah keterbatasan.
Pertama, indikator Februari 2026 memberikan snapshot pasar kerja pada periode tertentu dan tidak mewakili seluruh dinamika sepanjang tahun.
Kedua, rata-rata upah buruh tidak merepresentasikan pendapatan seluruh pekerja karena struktur pekerja Indonesia mencakup buruh/karyawan, pekerja mandiri, pekerja bebas, pekerja keluarga, dan kategori lainnya.
Ketiga, baseline pekerjaan formal dan informal yang digunakan sebagai konteks berasal dari periode sebelumnya sehingga tidak digunakan sebagai estimasi langsung komposisi Februari 2026.
Keempat, evidence mengenai dampak Generative AI sebagian berasal dari analisis regional ASEAN, sehingga tidak seluruh findings dapat diterapkan secara langsung pada Indonesia tanpa penelitian tambahan.
Kelima, exposure terhadap AI tidak sama dengan otomatisasi aktual dan tidak sama dengan kehilangan pekerjaan.
Keenam, hubungan antara skills, productivity, wage dan employment outcome tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan pergerakan beberapa indikator pada periode yang sama.
Karena itu seluruh findings harus dibaca sebagai bagian dari proses penelitian yang terus diperbarui.
21. Sources & Evidence
Primary Sources
1. Badan Pusat Statistik — Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia, Februari 2026
Digunakan untuk:
jumlah angkatan kerja;
jumlah penduduk bekerja;
pertumbuhan jumlah pekerja;
Tingkat Pengangguran Terbuka;
rata-rata upah buruh;
struktur lapangan usaha.
2. Badan Pusat Statistik — Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Februari 2026
Digunakan sebagai publikasi utama Sakernas untuk melihat struktur dan indikator ketenagakerjaan secara lebih lengkap.
3. Badan Pusat Statistik — Indikator Pasar Tenaga Kerja Indonesia Februari 2026
Digunakan sebagai evidence layer berdasarkan kerangka Key Indicators of the Labour Market — KILM.
4. Kementerian Ketenagakerjaan — Rencana Strategis 2025–2029
Digunakan untuk:
konteks pekerjaan formal/informal;
tantangan produktivitas;
peningkatan daya saing tenaga kerja;
pengembangan keterampilan;
penguatan layanan pasar kerja.
5. Kementerian Ketenagakerjaan — SKKNI Artificial Intelligence 2026
Digunakan sebagai evidence perkembangan standar kompetensi tenaga kerja bidang Artificial Intelligence, subbidang Knowledge Based System.
6. Kementerian Ketenagakerjaan — Talent and Innovation Hub
Digunakan sebagai evidence perkembangan program:
digital skills;
artificial intelligence;
kewirausahaan;
pengembangan kompetensi SDM;
dan perluasan kesempatan kerja.
Research Sources
7. ILO — Generative AI and Labour Markets in ASEAN
Published: 8 July 2026
Digunakan untuk:
GenAI exposure;
labour-market transformation;
entry-level employment signal;
dan evidence mengenai belum terlihatnya widespread labour-market disruption.
8. ILO — Changing Landscape of Skills in the Age of AI
Published: 13 August 2026
Digunakan untuk:
cognitive skills;
socioemotional skills;
digital skills;
AI skills;
adaptability;
resilience;
dan human agency.
9. Bappenas Working Papers — Outlook Ketenagakerjaan Indonesia 2026–2029
Digunakan sebagai contextual research mengenai:
job quality;
formal employment;
productivity;
labour-market challenges;
dan pemanfaatan bonus demografi.
Research Classification
Program: Indonesia Employment & Labor Monitor
Level: Level 2 — Research Update
Update: #001
Core Signal: Employment Growth → Job Quality → Skills → Productivity → AI Readiness
Status: Active Monitoring
Research Focus: Employment, Job Quality, Wages, Productivity, Skills & Future of Work
Next Review Trigger: Sakernas/BPS release, major labour-policy change, material labour-market movement, AI/automation evidence, atau major skills-demand development.
Research Foundation
Research Update #001 ini merupakan bagian dari living research:
Indonesia Employment & Labor Monitor
Continue Exploring ArrezaMP Research
← Back to ArrezaMP Research Hub
Explore Research Foundations, Research Updates, Research Insights, dan Case Studies dari seluruh program penelitian ArrezaMP.
ArrezaMP Research — Research & Evidence Intelligence
Evidence before conclusion. Analysis before decision.
Understand → Evidence → Analyze → Insight → Implication → Improve
Indonesia Employment & Labor Monitor
A Research Initiative by ArrezaMP
Research & Evidence Intelligence
Research Update #001 — August 2026

0 Komentar