baca juga: Bukan Sekadar Aman: 5 Saham Blue Chip 'Tidur' yang Siap Meledak Jadi Multibagger di 2026
META DESCRIPTION: Pasangan David dan Joyce Mondrous
menggelar pernikahan pertama di blockchain Bitcoin pada 2014. Apakah teknologi
ini mampu menggantikan peran negara dalam mengesahkan ikatan cinta? Simak
fakta, kontroversi, dan masa depan pernikahan digital.
Menikah Tanpa Restu Negara: Pernikahan
Blockchain Pertama di Dunia Ini Bikin Pemerintah Ketar-Ketir
Oleh: Redaksi News
| Kategori: Teknologi Blockchain
& Gaya Hidup Digital | Estimasi Baca: 10 menit
Bayangkan
sebuah pernikahan yang kontrak cintanya bukan ditandatangani di atas kertas
bermeterai, melainkan terpahat secara permanen ke dalam jaringan komputer yang
tersebar di seluruh penjuru dunia — tidak bisa dihapus, tidak bisa
dimanipulasi, dan tidak memerlukan tanda tangan pejabat manapun. Kedengarannya
seperti fiksi ilmiah, bukan? Namun pada tahun 2014, pasangan David dan Joyce
Mondrous benar-benar melakukannya. Mereka menggelar apa yang kemudian dicatat
sejarah sebagai pernikahan pertama di dunia yang tersimpan di atas blockchain
Bitcoin.
Langkah
mereka bukan sekadar gimmick teknologi atau aksi viral semata. Di balik kode QR
yang dibagikan kepada tamu undangan itu, tersimpan sebuah pernyataan filosofis
yang jauh lebih dalam: bahwa cinta dan komitmen manusia seharusnya tidak harus
meminta izin dari institusi negara untuk dianggap sah. Tindakan ini pun
langsung memantik perdebatan panas — dari kalangan ahli hukum, teolog, aktivis
hak sipil, hingga para pengembang teknologi kripto.
Pertanyaan
yang muncul kemudian tidak sederhana: Jika blockchain bisa menyimpan janji suci
dua manusia secara permanen dan transparan, apakah negara masih relevan sebagai
validator hubungan percintaan? Dan lebih jauh lagi — apakah pernikahan
blockchain ini ancaman nyata bagi otoritas pemerintah, atau justru evolusi
logis dari konsep kebebasan sipil di era digital?
Ketika Cinta Bertemu Bitcoin: Kisah di Balik Pernikahan Bersejarah Itu
Kisah David
dan Joyce Mondrous berawal dari keyakinan bersama bahwa hubungan mereka tidak
memerlukan cap negara untuk menjadi nyata. Ruben Alexander, jurnalis yang
pertama kali mendokumentasikan peristiwa ini dalam sebuah artikel yang kemudian
beredar luas di komunitas Bitcoin, menggambarkan upacara itu sebagai momen yang
sederhana namun sarat makna.
Secara
teknis, pernikahan blockchain ini memanfaatkan fitur yang disebut OP_RETURN —
sebuah mekanisme di dalam protokol Bitcoin yang memungkinkan pengguna
menyisipkan data tambahan berukuran kecil ke dalam sebuah transaksi. David
Mondrous memanfaatkan celah teknis ini untuk menyematkan detail ikrar
pernikahan mereka — termasuk nama, tanggal, dan janji setia — ke dalam sebuah
transaksi Bitcoin yang kemudian dikonfirmasi oleh jaringan dan tersimpan
selamanya di dalam blockchain.
Tamu
undangan yang hadir tidak membawa pulang buku tamu konvensional atau suvenir
pernikahan biasa. Mereka menerima kartu dengan kode QR yang, ketika dipindai,
mengarahkan ke transaksi blockchain publik yang bisa diverifikasi oleh siapa
saja di seluruh dunia. Sebuah langkah yang pada 2014 terasa revolusioner, namun
kini mulai dilirik oleh semakin banyak pasangan di berbagai belahan dunia.
Yang
menarik, pasangan ini tidak sepenuhnya menolak pernikahan legal konvensional.
Langkah mereka lebih tepat digambarkan sebagai pernyataan filosofis — sebuah
tanda tangan tambahan di atas kontrak kehidupan mereka yang mereka anggap jauh
lebih kekal dari lembaran kertas apapun yang bisa sobek, terbakar, atau
dimanipulasi.
Apa Itu Blockchain dan Mengapa Ia Bisa Menyimpan Janji Suci Selamanya?
Untuk
memahami mengapa pernikahan blockchain ini begitu signifikan, kita perlu
sedikit menyelami apa itu teknologi blockchain. Secara sederhana, blockchain
adalah sebuah buku besar digital yang bersifat terdesentralisasi — tidak
dikontrol oleh satu entitas tunggal manapun, baik itu perusahaan swasta maupun
pemerintah. Setiap data yang sudah masuk ke dalam blockchain dikunci
menggunakan kriptografi canggih dan didistribusikan ke ribuan komputer
sekaligus di seluruh dunia.
Artinya,
untuk mengubah atau menghapus sebuah data yang sudah tersimpan di blockchain,
seseorang harus berhasil memanipulasi lebih dari 51% dari seluruh komputer yang
ada di jaringan tersebut secara bersamaan — sebuah tugas yang secara praktis
mustahil dilakukan, apalagi terhadap jaringan Bitcoin yang kini memiliki jutaan
node tersebar global.
Inilah yang
membuat blockchain menjadi medium yang sangat menarik untuk menyimpan dokumen
penting, termasuk ikrar pernikahan. Berbeda dengan akta nikah fisik yang bisa
hilang, rusak, atau bahkan dipalsukan — sebuah catatan di blockchain bersifat
immutable atau tidak dapat diubah, transparan sehingga bisa diverifikasi
publik, dan permanen selama jaringan Bitcoin masih berjalan.
Sejak kisah
David dan Joyce viral di komunitas kripto, tren ini perlahan mulai berkembang.
Platform seperti Ubitquity mulai menawarkan layanan pencatatan properti
berbasis blockchain, sementara startup-startup di berbagai negara mulai
mengeksplorasi kemungkinan penggunaan smart contract berbasis Ethereum untuk
memformalisasi perjanjian-perjanjian sipil — termasuk pernikahan.
Ancaman Nyata atau Sekadar Simbolisme? Ini yang Membuat Pemerintah Gelisah
Di sinilah
kontroversi sesungguhnya dimulai. Apakah pernikahan blockchain ini merupakan
ancaman serius terhadap otoritas negara, atau hanya gestur simbolis yang tidak
memiliki dampak hukum nyata? Jawabannya bergantung pada sudut pandang mana Anda
berdiri.
Dari
perspektif hukum positif yang berlaku di hampir seluruh negara di dunia,
pernikahan blockchain saat ini tidak memiliki kekuatan hukum. Di Indonesia
misalnya, sebuah pernikahan baru dianggap sah secara hukum apabila dilaksanakan
menurut ketentuan agama dan kepercayaan masing-masing pihak, serta dicatatkan
di Kantor Urusan Agama (KUA) atau Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Tanpa
pencatatan tersebut, pernikahan tidak diakui negara — dan implikasinya sangat
luas, mulai dari hak waris, hak asuh anak, hingga hak atas jaminan sosial.
Namun para
pendukung pernikahan blockchain berargumen bahwa ini bukan soal menghindari
hukum — melainkan soal menambahkan lapisan kepercayaan yang lebih tinggi di
atas sistem yang ada. Mereka menunjuk pada fakta bahwa di banyak negara
berkembang, sistem pencatatan sipil masih rentan terhadap korupsi, pemalsuan
dokumen, dan inefisiensi birokrasi.
Data dari
Bank Dunia menunjukkan bahwa sekitar 1 miliar orang di seluruh dunia hingga
kini tidak memiliki identitas hukum yang dapat diverifikasi — sebagian besar
karena kegagalan sistem pencatatan sipil konvensional di negara mereka.
Blockchain, dalam konteks ini, bisa menjadi solusi alternatif yang powerful.
Di sisi
lain, kalangan konservatif dan beberapa pemimpin agama memandang fenomena ini
dengan kekhawatiran mendalam. Bagi mereka, pernikahan bukan sekadar kontrak
administratif yang bisa didelegasikan ke algoritma komputer. Pernikahan adalah
institusi sakral yang membutuhkan dimensi spiritual, komunal, dan legal
sekaligus — dan ketiganya tidak bisa digantikan oleh baris kode di jaringan
blockchain manapun.
Smart Contract Pernikahan: Evolusi Berikutnya yang Lebih Radikal
Jika
pernikahan blockchain David dan Joyce terasa revolusioner, bayangkan apa yang
kini mulai dikembangkan oleh para inovator teknologi: smart contract pernikahan
berbasis Ethereum. Berbeda dari sekadar menyimpan data teks di blockchain
Bitcoin, smart contract memungkinkan pembuatan perjanjian otomatis yang bisa
dieksekusi sendiri berdasarkan kondisi-kondisi yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Dalam
konteks pernikahan, ini berarti pasangan bisa secara eksplisit mengkodekan
kondisi-kondisi pernikahan mereka ke dalam sebuah smart contract — termasuk
bagaimana aset akan dibagi jika terjadi perceraian, siapa yang mendapat hak
asuh anak dalam skenario tertentu, hingga mekanisme otomatis untuk distribusi
warisan. Semua ini tanpa perlu melibatkan pengacara, notaris, atau hakim.
Proyek-proyek
seperti Mango (Marriage Agreement and Nuptial Guarantee on blockchain) mulai
bermunculan, meski masih dalam tahap eksperimental. Sementara itu, negara Utah
di Amerika Serikat pada 2023 menjadi salah satu pionir dengan mulai
mengeksplorasi penggunaan blockchain untuk verifikasi identitas digital dalam
konteks layanan pemerintahan, sebuah langkah yang para analis teknologi
prediksi bisa membuka jalan bagi pengakuan legal dokumen berbasis blockchain di
masa depan.
Pertanyaannya
kini bukan lagi apakah teknologi ini memungkinkan — karena secara teknis sudah
terbukti memungkinkan. Pertanyaannya adalah: seberapa cepat sistem hukum dunia
siap beradaptasi dengan realitas baru ini? Dan siapakah yang akan paling
diuntungkan — atau justru paling dirugikan — ketika adaptasi itu terjadi?
Dua Sisi Koin: Argumen Pro dan Kontra yang Harus Anda Ketahui
Untuk
memberikan gambaran yang berimbang, mari kita telaah kedua sisi perdebatan ini
secara lebih mendalam.
Argumen Pro: Mengapa Pernikahan Blockchain Layak Didukung
Pertama,
soal transparansi dan ketidakberpihakan. Blockchain tidak memiliki agenda
politik, tidak bisa disuap, dan tidak bergantung pada mood seorang birokrat.
Sebuah catatan pernikahan di blockchain adalah sama sahnya hari ini, sepuluh
tahun dari sekarang, maupun seabad mendatang — selama jaringan masih berjalan.
Kedua, aksesibilitas. Di daerah-daerah terpencil yang sulit menjangkau kantor
catatan sipil, atau di negara-negara yang sistem pemerintahannya tidak stabil,
blockchain bisa menjadi jangkar kepercayaan yang sangat berharga.
Ketiga,
perlindungan privasi yang paradoks namun cerdas. Meskipun blockchain bersifat
publik, data yang disimpan di dalamnya bisa dienkripsi sedemikian rupa sehingga
hanya pihak-pihak tertentu yang bisa membacanya — sementara keberadaan dan
integritas data itu sendiri tetap bisa diverifikasi oleh siapapun. Keempat,
pengurangan birokrasi. Proses pernikahan legal konvensional di banyak negara
masih memakan waktu, biaya, dan energi yang tidak sedikit. Smart contract bisa
memangkas hambatan-hambatan ini secara dramatis.
Argumen Kontra: Bahaya yang Mengintai di Balik Inovasi
Namun para
kritikus punya poin-poin yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Pertama,
ketiadaan perlindungan hukum. Tanpa pengakuan negara, pasangan yang menikah
hanya via blockchain kehilangan akses ke ribuan hak dan perlindungan hukum yang
melekat pada pernikahan resmi — dari hak atas tunjangan, hak waris, hingga
perlindungan dalam kasus kekerasan rumah tangga. Siapa yang bisa mereka tuntut
jika smart contract tidak bekerja sesuai harapan?
Kedua,
masalah teknis yang nyata. Blockchain tidak bebas dari bug dan eksploitasi.
Pada 2016, serangan terhadap proyek The DAO di jaringan Ethereum berhasil
menguras dana senilai lebih dari 50 juta dolar AS. Jika smart contract
pernikahan mengandung celah serupa, konsekuensinya bisa jauh lebih personal dan
merusak dari sekadar kerugian finansial. Ketiga, kesenjangan digital. Tidak
semua orang memiliki akses ke teknologi, pengetahuan teknis, atau koneksi
internet yang stabil untuk memanfaatkan sistem ini — yang berarti pernikahan
blockchain berisiko menjadi privilese eksklusif kelas menengah atas perkotaan.
Perspektif Indonesia: Mungkinkah Pernikahan Blockchain Diakui di Sini?
Bagi pembaca
Indonesia, pertanyaan yang paling relevan tentu adalah: bagaimana posisi hukum
Indonesia terhadap fenomena ini, dan apakah ada peluang pernikahan berbasis
blockchain mendapat pengakuan legal di masa depan?
Secara hukum
positif, jawabannya saat ini sangat jelas: tidak ada. Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan beserta perubahannya melalui UU No. 16 Tahun 2019
menetapkan bahwa pernikahan hanya sah apabila dilakukan menurut hukum agama dan
kepercayaan masing-masing pihak, dan setiap pernikahan wajib dicatat sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tidak ada klausul yang mengakomodasi
pencatatan berbasis teknologi blockchain.
Namun
menariknya, Indonesia justru termasuk negara yang cukup progresif dalam adopsi
teknologi blockchain untuk layanan pemerintahan di sektor lain. Badan
Pertanahan Nasional (BPN) misalnya, telah menjalankan pilot project sertifikasi
tanah berbasis blockchain di beberapa wilayah. Kementerian Komunikasi dan
Informatika pun telah mengakui potensi blockchain dalam roadmap transformasi
digital Indonesia.
Ini
menciptakan sebuah ironi yang menarik: di satu sisi, pemerintah Indonesia aktif
mengadopsi blockchain untuk verifikasi aset — tapi di sisi lain, belum ada
diskusi serius tentang kemungkinan mengintegrasikan teknologi ini ke dalam
sistem pencatatan pernikahan. Apakah ini hanya soal waktu, ataukah ada hambatan
struktural yang lebih fundamental?
Masa Depan Pernikahan di Era Web3: Skenario yang Mungkin Terjadi
Terlepas
dari kontroversinya, tren pernikahan blockchain tidak menunjukkan tanda-tanda
akan mereda. Sebaliknya, dengan makin matangnya ekosistem Web3, NFT, dan
identitas digital terdesentralisasi (DID — Decentralized Identity),
infrastruktur teknis untuk pernikahan blockchain yang lebih canggih justru
semakin kuat.
Skenario
pertama yang mungkin terjadi adalah hibridisasi: negara-negara maju mulai
mengakui catatan blockchain sebagai bukti pendukung yang valid dalam proses
verifikasi status pernikahan, meski tidak sepenuhnya menggantikan pencatatan
sipil konvensional. Ini sudah mulai terlihat di beberapa negara bagian Amerika
Serikat dan Estonia, yang dikenal sebagai salah satu negara paling maju dalam
implementasi e-government berbasis teknologi.
Skenario
kedua adalah revolusi penuh: di mana negara-negara secara bertahap
mengintegrasikan sistem pencatatan sipil mereka ke dalam blockchain publik,
sehingga seluruh proses pernikahan — dari pengajuan, verifikasi, pencatatan,
hingga distribusi akta — terjadi secara otomatis, transparan, dan anti-korupsi
di atas infrastruktur terdesentralisasi.
Skenario
ketiga, yang mungkin paling realistis dalam jangka menengah, adalah
koeksistensi: pernikahan blockchain tetap menjadi pilihan alternatif bagi
mereka yang secara filosofis memilih untuk tidak tergantung pada institusi
negara, sementara sistem legal konvensional terus berjalan paralel dan kedua
pihak saling mengakui eksistensi masing-masing.
Implikasi Etis: Ketika Algoritma Menjadi Saksi Akad
Di luar
dimensi teknis dan legal, ada dimensi etis yang tak kalah penting untuk
diperdebatkan. Ketika dua manusia mengucapkan janji suci di hadapan algoritma
komputer dan jaringan node yang tersebar di seluruh dunia — apakah bobot
moralnya setara dengan janji yang diucapkan di hadapan Tuhan, keluarga, dan
komunitas?
Para filsuf
teknologi seperti Shoshana Zuboff, yang dikenal dengan teorinya tentang
surveillance capitalism, mengingatkan bahwa digitalisasi hubungan manusia
membawa risiko reduksi — mengubah sesuatu yang kaya makna menjadi sekadar data
yang dapat diukur, diperdagangkan, dan dieksploitasi. Dalam konteks ini,
pernikahan blockchain bisa menjadi simbol dari kecenderungan berbahaya untuk
men-datafying seluruh aspek kehidupan manusia.
Namun di
sisi lain, banyak pasangan justru merasa bahwa memilih blockchain sebagai
medium untuk merekam janji cinta mereka adalah justru bentuk penghormatan
tertinggi — karena mereka percaya bahwa janji itu begitu berharga hingga harus
disimpan dalam medium yang paling tahan lama dan paling jujur yang pernah
diciptakan manusia.
Kesimpulan: Revolusi Cinta yang Sedang Berlangsung
Pernikahan
David dan Joyce Mondrous pada 2014 bukan hanya sebuah anekdot menarik dari era
awal Bitcoin. Ia adalah titik awal dari sebuah percakapan yang jauh lebih besar
tentang hubungan antara teknologi, kebebasan individual, otoritas negara, dan
makna komitmen dalam kehidupan manusia modern.
Blockchain
tidak akan serta-merta menggantikan institusi pernikahan konvensional dalam
waktu dekat. Sistem hukum yang ada terlalu mengakar, dan
pertimbangan-pertimbangan sosial, agama, serta budaya terlalu kompleks untuk
sekadar digantikan oleh smart contract. Namun teknologi ini dengan sangat
efektif membuka ruang diskusi yang selama ini jarang disentuh: seberapa banyak
kontrol yang seharusnya dimiliki negara atas hubungan paling personal dalam
kehidupan warganya?
Jawaban atas
pertanyaan itu tidak akan ditemukan di baris-baris kode blockchain, melainkan
dalam percakapan panjang yang harus kita lakukan bersama — sebagai masyarakat,
sebagai warga negara, dan sebagai manusia yang terus mencari cara terbaik untuk
mendefinisikan dan melindungi apa yang paling kita sayangi.
Satu hal
yang pasti: inovasi tidak pernah menunggu persetujuan. Seperti halnya David dan
Joyce yang memilih untuk mencatat ikrar cinta mereka di media yang mereka
percaya paling kekal — zaman terus bergerak, teknologi terus berkembang, dan
definisi tentang apa yang "sah" dalam hubungan manusia akan terus
berevolusi. Pertanyaannya hanyalah: apakah kita siap untuk berdiskusi secara
dewasa tentang arah evolusi itu?
KEYWORD & TAGS: pernikahan blockchain, pernikahan
digital pertama, Bitcoin pernikahan, smart contract pernikahan, blockchain
Indonesia, web3 pernikahan, teknologi blockchain, David Joyce Mondrous,
pernikahan tanpa negara, revolusi digital pernikahan, kripto dan kehidupan,
blockchain hukum perkawinan
baca juga:
1. Start Strong: 5 Saham 'Undervalued' Pilihan Q1 2026 yang Berpotensi Multibagger
2. Berburu Multibagger 2026: Sektor Saham yang Layak Masuk Watchlist
3. rangkuman saham blue chip Indonesia
baca juga: Bitcoin: Aset Digital? Membongkar 7 Mitos Paling Berbahaya Tentang Cryptocurrency Pertama Dunia
baca juga: Regulasi Cryptocurrency di Indonesia: Hal yang Wajib Diketahui Investor
.png)






0 Komentar